Aku bukannya tidak suka ketika sahabat terdekat ayah berkunjung
ke rumah untuk meminang. Maksudku, siapa yang cukup kurang waras untuk menolak
memiliki suami yang begitu dermawan dan punya hubungan dekat dengan keluarga
kita? Hanya saja aku tak merasakan kesenangan yang kupikir akan kurasakan
ketika malam itu ayah Aisyah datang. Akhirnya aku hanya berdiam di kamar, tanpa
punya debar-debar khusus seperti yang mungkin para gadis umumnya rasakan. Saat
pada akhirnya ayahku menolak ayah Aisyah dengan halus, rasa lega pun tidak
terlalu kentara. Pun demikian yang kurasakan ketika kali berikutnya dua sahabat
ayah yang lain datang ke rumah.
Mostly about social, books, and personal development. No I don't talk about physics and math, but will still come if you offer me a cup of cappuccino. Thank you for visiting my page!
Minggu, 28 Februari 2016
Langganan:
Postingan (Atom)
Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea
Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...
-
Lagi-lagi aku menemui Aris sepulang sekolah. Di pohon kelapa dekat sungai itu, aku tahu dia juga sedang menungguku. Aku tak sabar bercerita...
-
Nanti kita bekerja keras sampai lupa bahagia. Lalu kita bangun rumah di gunung tepi laut, yang jauh, yang hanya bisa dikunjungi kalau kange...