Kamis, 29 Desember 2016

Dunia yang Ramah

18 Juli 2014

Aku pernah mendengar tentang perang di luar sana. Aku juga pernah mendengar kisah-kisah di dalamnya yang mengurai air mata. Kita, nyatanya, belumlah hidup di surga. Bayangan surga adalah noktah-noktah harapan yang membuat bertahan mereka yang percaya. Aku percaya. Mereka juga percaya.

Sampai masa ketika dunia menjadi ramah untukmu dan tempat bertumbuh yang ideal bagi anak-anakmu, teruslah percaya. Percaya tak akan membuat rugi siapa-siapa. Dalam peperangan mereka yang bertemu Tuhannya adalah mereka yang tidak menyesal. Kamu, janganlah sampai menarik kata-kata dalam doa. Kamu, teruslah berdiri dan tak perlu berlari. Hidupmu adalah kemenangan, matimu adalah rahmat.

Menyuap Murid-Murid

Pantai Suwuk ramai. Meski ombak besar-besar dan suaranya keras menghantam pasir pantai, orang-orang bersikukuh menyorongkan diri ke tepiannya. Kelima adik-adik binaanku berdiri berjajar menghadap laut, seperti mematung. Mereka sudah selesai bercebur di pantai sebelumnya yang kami datangi, Pantai Bopong. Sekarang tinggal sesi jajan dan mengabiskan waktu sebelum Ashar datang.
Aku melihat mereka mereka dari warung agak jauh dari tepi pantai. Pantai ini sudah banyak berubah. Deretan warung mengisi sepanjang tepian jalan setapak semen yang dulunya kosong. Ada bangunan kantor penjaga pantai di seberang jalan ke arah pantai. Sudah sepenuhnya komersial rupanya.

Selasa, 29 November 2016

Melangkah ke Arena

Dunia pendidikan sebetulnya tidak asing. Sebagai objek kita sudah merasakannya sejak lahir. Sebagai subjek aku sendiri baru merasakannya baru-baru ini saja, selepas SMA dan memasuki masa kuliah. Dari posisi objek yang hanya menerima ilmu dari sana-sini, kemudian mulai tahu ilmu apa yang ingin dimiliki dan melangkahkan kaki mencarinya.

Selasa, 18 Oktober 2016

Untuk Umiku yang Bangun Kesiangan

Katanya semalam kau mimpi yang menyenangkan
Berjalan di padang hijau yang ada ayunan terikat di dahan
Lalu kau bangun mengutuki diri yang bangun kesiangan
Hari masih gelap tapi rezeki sudah menghilang
Apakah tidur lelap menjadi sebuah dosa sekarang?

Senin, 10 Oktober 2016

Melihat ke Belakang

Jadi, mulai dari mana ya. Kalau blog ini rumah, pasti sudah penuh sawang (sarang laba-laba). Dulu waktu membuat blog ini, sepertinya tujuannya hanya untuk menyimpan tulisan-tulisan yang kuikutsertakan ke lomba dan artikel tugas kuliah. Tapi berhubung semakin jarang ikut lomba (bahkan sekarang mandeg sama sekali) dan sudah tidak kuliah, jadinya blog ini diisi curhatan galau. Macam ABG pula. Yasudah, toh tidak ada orang lain yang membaca selain diri sendiri. Blog ini berubah fungsi jadi ajang curhat yang sewaktu-waktu bisa diakses pemiliknya dari bus, dari warung, dari sawah, dari kamar mandi, atau dari mana saja dan bisa ditertawakan sepuasnya.

Selasa, 23 Agustus 2016

Tentang Rasa Bukan Cinta

Oleh Muhammad Ibnu Faiz

Ini tentang rasa, bukan cinta
Akan kuungkap semua. Semua rasa bukan cinta,

Terlihat begitu berani aku mendoktrinkan rasa ini bukan cinta sedang aku tak tau pasti apa itu cinta
Bagai bocah bodoh yang ngeyel dan bersikukuh dengan pendapatnya sendiri

Surau Tahun Ini

Katamu, dzikir adalah resah dalam mimpi
Perlahan kita tumbuh menjadi kaum skeptis
Mesti bagaimana lagi?

Lari

Ada banyak kiasan di dunia ini. Mereka hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu. Orang yang peduli akan memahami atau setidaknya berusaha untuk memahami. Sedangkan yang tidak peduli akan melewatinya begitu saja, tak ambil pusing dengan mereka. Kiasan-kiasan itu membawa pesan tertentu dari pembuatnya. Bukan hanya untuk sekadar dilihat, tapi dimengerti.
Orang-orang Jawa terdahulu memiliki banyak sekali kiasan yang diselipkan dalam petuah-petuah mereka. Petuah itu kemudian disampaikan turun-temurun kepada anak cucu hingga generasi-generasi mereka selanjutnya. Bersama dengan itu, kiasan terus-menerus mengalir membawa pesan-pesan yang lestari sejak zaman nenek moyang.

Senin, 08 Agustus 2016

Respek

Respek itu susah dicari, Nis. Beda dengan pujian yang siapa pun orangnya bisa memberikan, terutama justru orang-orang yang tidak dikenal. Mereka yang tidak akrab, apalagi kalau orang Jawa, akan cenderung rikuh dan pekewuh jika mau menyebutkan kekurangan kita. Lain dengan yang akrab atau terlanjur dekat, memberi pujian langsung rasanya iyuh sekali. Respek lain. Ia didapatkan bukan dari mengumpulkan prestasi, tapi bagaimana memenuhi amanah dan janji.

Jumat, 29 Juli 2016

Perihal Mereka yang Ditinggalkan

Sebenarnya aku sudah berhenti untuk sok memberi komentar soal sesuatu yang sedang jadi tren pembicaraan di TV. Rasanya mainstream sekali, soalnya. Pun tak pernah ada habisnya jika serius dibahas. Kalau tidak serius membahas, kan namanya omong kosong, hanya bicara saja tidak mampu mengubah apa-apa. Kupikir begitu, tapi aku tidak bisa menahan diri soal yang satu ini.

Senin, 06 Juni 2016

Mabit 05062016

Ini pertama kalinya saya menghadiri kajian pra nikah yang tidak menganjurkan para pesertanya untuk “menyegerakan”.

Tidak Wajib

Sejauh yang saya pahami dan yakini, tidak ada ayat Al-Quran yang mewajibkan seseorang untuk menikah.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nuur: 32)

Jumat, 20 Mei 2016

Gang Dieng RW 2 Desa Wero (Part 1: Lahirnya Legenda)

Kuberi tahu kau, aku adalah legenda hidup. Kisah kehidupanku sudah terkenal di wilayah RW sini. Anak-anak sudah diperingatkan orang tua mereka agar tak mengusikku, apalagi ketika aku sedang berjemur. Siapa pun wajib menyingkir membuka jalan saat aku mau lewat. Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya. Aku bisa membuatnya mengalami trauma berkepanjangan.

Seorang perempuan yang biasa dipanggil warga sekitar "Umi" memisahkanku dari orang tua dan saudara-saudaraku yang lain di RT sebelah. Aku masih berusia 2 bulan. Umi membawaku ke rumahnya dan melatihku mengusir tikus di warung dan dapurnya. Aku melakukannya dengan terpaksa selama berbulan-bulan sampai aku jengah. Tikus-tikus itu terlalu bodoh dan lamban. Pemburu sejati tak puas dengan mangsa yang mudah ditangkap.

Jumat, 13 Mei 2016

Amin

Aku selalu waspada dalam berdoa.
Kadang juga iseng. Menutup dengan amin beberapa harapan yang saat itu kupikir tidak mungkin. Anggap saja aku mengujinya: apakah ia benar-benar mampu menjadikanmu nyata?

Sabtu, 23 April 2016

The Way He Loves Me

Langit malam Kota Yogyakarta menjadi pemandangan tanpa batas. Aku tidak peduli pada suara tokek yang terkadang berisik atau pada suara jangkrik dan teman-teman komunitas sawahnya. Sekali ini aku juga tidak peduli pada cerita horor yang pernah kudengar dari teman-teman atau yang belakangan sempat sedikit kubaca di internet. Lampu depan sudah kunyalakan sebelum naik ke lantai tiga pondok kayu ini dan membuka jendelanya lebar-lebar. Di malam yang cerah tak berawan ini, aku ingin berduaan saja.

Lelaki yang Mampir Minum Kopi

Lelaki bilang mereka masing-masing berbeda dari yang lainnya. Mendekat atas nama persahabatan, lalu memberi nyaman. Saat nyaman sudah tertanam dalam diri perempuan, mereka pun pergi.
Juga atas nama persahabatan.

Kamis, 31 Maret 2016

Selamat Menjadi Perempuan!


(Tulisan ini adalah kesimpulan yang saya pilih atas hasil bincang-bincang dengan beberapa teman perempuan dan hasil membaca buku "Jalan Cinta para Pejuang" dan "Bahagianya Merayakan Cinta" oleh Salim A. Fillah, serta "Raudhatul Muhibbin" oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Tak lupa juga tulisan-tulisan menarik tentang perempuan dari tumblr Ridha Intifadha)

Terlahir sebagai perempuan bukan pilihan, tetapi menjadi perempuan yang seperti apa adalah kita yang menentukan. Saya memilih untuk menganggap terlahir sebagai perempuan sebagai keberuntungan. Dan memilih untuk menjadi perempuan adalah jalan yang mesti diperjuangkan.

Rabu, 16 Maret 2016

Jejak

Lagi-lagi aku menemui Aris sepulang sekolah. Di pohon kelapa dekat sungai itu, aku tahu dia juga sedang menungguku. Aku tak sabar bercerita tentang kejadian lucu di kelasku tadi. Tak lupa kuselipkan sebatang gulali ke tas untuk kuberikan padanya jika dia bisa menjawab pertanyaan dariku.
Kutemukan Aris menungguku dengan bermain yoyo di atas bongkahan batu besar di samping pohon kelapa di pinggir sungai. Markas kami.

Jumat, 11 Maret 2016

Got Accident for The First Time

I got my first accident this evening. I was braking to turn right. Then I felt pushed ahead, like in slow motion, and with my motorcycle I was falling to the left.

The first thing I thought after bumping the road was, "My laptop! Is my laptop okay?" After I took my bag, thank God it was okay, someone lifted me and helped me walk to the side road. He lifted up the motorcycle and told me to sit down. I didn't know what was going on.

Minggu, 28 Februari 2016

Ali Fatimah



Aku bukannya tidak suka ketika sahabat terdekat ayah berkunjung ke rumah untuk meminang. Maksudku, siapa yang cukup kurang waras untuk menolak memiliki suami yang begitu dermawan dan punya hubungan dekat dengan keluarga kita? Hanya saja aku tak merasakan kesenangan yang kupikir akan kurasakan ketika malam itu ayah Aisyah datang. Akhirnya aku hanya berdiam di kamar, tanpa punya debar-debar khusus seperti yang mungkin para gadis umumnya rasakan. Saat pada akhirnya ayahku menolak ayah Aisyah dengan halus, rasa lega pun tidak terlalu kentara. Pun demikian yang kurasakan ketika kali berikutnya dua sahabat ayah yang lain datang ke rumah.

Jumat, 15 Januari 2016

Jalan Raya yang Kita Buat



Di sebuah kertas kosong, kudeskripsikan untukmu, gambaran sebuah jalan raya di antara rumah kita biar bisa kau buat jadi nyata. Meski awalnya hanya sedikit yang memakai, ternyata makin lama makin banyak orang berlalu-lalang melewati rumah kita. Jalanan itu jadi tempat orang-orang mencari kekasih. Atau jadi sarana para penyendiri yang menghabiskan waktu menikmati pemandangan dan merenungi pembenaran-pembenaran bagi kesendirian mereka. Karena di kanvas itu kugambarkan juga gerumbul-gerumbul pohon dan satu-dua sungai dengan jembatan di atasnya. Di bus yang berlalu di jalan raya itu, kita bertemu.

Minggu, 03 Januari 2016

Surat Cinta untuk Niah

Assalamu'alaykum wr. wb.
Semoga Allah senantiasa mengiringi langkahmu dengan lindunganNya.

Kutulis surat kecil ini untuk sahabatku yang Insha Allah di dunia dan akhirat. Kita dipertemukan, aku yakin bukan dalam ketidaksengajaan. Yang kuyakini, segala yang terjadi telah dituliskanNya dengan sempurna hingga tiap detilnya. Kuyakini juga bahwa selalu ada pembelajaran bagi mereka yang berpikir dan mencari hikmah dalam setiap takdir yang disiapkan Allah. Termasuk kesempatan untuk mengenalmu, baik sebagai pribadi maupun partner yang membuatku mendapatkan pelajaran, disadari atau tidak.

Satu Musim

Bukan masalah besar seandainya gerimis mengetuk pintu sore itu
Suaramu menyisip-nyisip di antara celah setrip air yang tumpah perlahan

"Teruslah bertiup, memberi dingin semilir tanpa membasahi siapapun.."

begitu kudengar kau berkata pada angin
Begitu saja, luruh, lepas, bebas

Resah seperti vitamin dalam hujan terakhir dulu
Akankah tanah tetap basah?

Hujan tahun lalu itu hanyalah awal kisah yang kini tamat ditebas gersang

Ailsaku

Padanya mataku selalu tertuju. Di antara lautan manusia yang berlalu-lalang keluar-masuk pandangan, tatapku selalu bisa menangkapnya. Ya, aku selalu bisa menangkap geraknya dalam frame-frame­ ingatan otakku yang kecil. Jika tak terlihat, mataku gelisah, leherku sibuk menengak-nengok ke semua arah. Aku berharap bisa melihatmu muncul dari balik dinding, dari belokan koridor, dari tangga mushola, dari semua sudut yang bisa tertangkap pandangku. Aku tenang dengan keberadaanmu. Ailsa, aku sungguh mencintaimu.

Satu Bijak tentang Bunga

(There's a sudden feeling to post this after hearing your story. I wrote this more than a year ago, didn't mean to share it. Without a need to mention, hope you still read this)

Ada dua bunga yang disodorkan padamu tepat di hari kelulusanmu dari universitas. Keduanya bunga mawar yang merah mempesona. Tanpa duri, indah dipandang. Ia sangat cocok dengan gaun kebaya merah jambu yang kau pakai.

Bunga pertama dibawakan oleh laki-laki yang kau cintai. Bunga yang dibuat dengan tangan dan dipesan khusus untukmu. Kau tak perlu merawatnya. Tinggal masukkan ke vas dan pajang di meja ruang tamumu, atau di kamar agar kau bisa melihatnya setiap hari. Bunga itu tak akan pernah layu walau kau lupa menyiramnya.

The Girl who Lets Him Go

Once, a girl and a boy met up under a tree near a river. It would be more romantic to story-telling if the tree was a willow or cherry. But they only found a mango tree by the river, so it was nevermind. Who would care about the tree when the one who always filled your dreams sitting beside you?

The boy didn't say anything, so did the girl. Sometimes they would just glance to each other ("Is that a rainbow in her eyes?" said the boy, deep in his heart), too shy to start a conversation. Was that around 30 minutes? An hour, or even more? They both never counted. As the time flied and days passed, they finally knew each other names and addresses.

After D(e)ad Scenario

9 January 2015, 2.00 pm
Let me tell you one thing. This piece of paper is not a kind of confession. No one will ever read this and everything’s better being buried along with that crushed body.

I didn’t find anyone else who can hold himself from telling others what I was about to tell. People just a broken piece of glass that can’t have any water filled into. As soon after I told them, they would whisper it throughout the world. I trust no one.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...