(Tulisan ini adalah kesimpulan yang saya pilih atas hasil bincang-bincang dengan beberapa teman perempuan dan hasil membaca buku "Jalan Cinta para Pejuang" dan "Bahagianya Merayakan Cinta" oleh Salim A. Fillah, serta "Raudhatul Muhibbin" oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Tak lupa juga tulisan-tulisan menarik tentang perempuan dari tumblr Ridha Intifadha)
Terlahir sebagai perempuan bukan pilihan, tetapi menjadi perempuan yang seperti apa adalah kita yang menentukan. Saya memilih untuk menganggap terlahir sebagai perempuan sebagai keberuntungan. Dan memilih untuk menjadi perempuan adalah jalan yang mesti diperjuangkan.
Tidak seperti laki-laki yang sudah punya role model yang pasti (Rasulullah SAW), perempuan lebih memiliki kebebasan untuk menjadi siapa saja. Ia boleh mencontoh Khadijah yang kaya dan bijaksana atau Asiyah yang pemberani dan teguh menghadapi suaminya yang zalim. Pun bisa menjadi seperti Maryam si perempuan suci atau Aisyah yang cerdas, ceria, dan pencemburu. Kita pun bisa meneladani Fatimah yang menjaga hati untuk cintanya yang sejati dan bersedia hidup sederhana bersama Ali. Atau kita pun bisa menjadi diri sendiri, menemukan jalan yang paling sesuai dengan hati dan kondisi sekitar.
Saya yakin menjadi seperti apa atau siapapun tak kalah mulia, asalkan tetap dalam jalurNya. Khadijah jauh lebih tua daripada suaminya, Asiyah berani menentang perintah suaminya, Maryam menolak semua laki-laki yang datang padanya, Aisyah yang pencemburu, dan Fatimah memendam cinta dalam diam. Lihat? Begitu banyak pilihan. Belum lagi kisah perempuan-perempuan dalam hadist yang sering tak diceritakan, tetapi layak menjadi teladan karena mereka bertindak berdasarkan cinta kepadaNya. Di antara perempuan-perempuan itu, adakah yang disebutkan lebih tidak mulia dibandingkan lainnya?
Begitupun dalam cinta. Seorang teman berkata, "Perempuan tidak perlu berjuang." Maksudnya perempuan tidak perlu berusaha susah payah untuk mendapatkan suami yang baik. Meskipun jumlah perempuan lebih banyak, laki-laki pun tidak bodoh untuk memilih sembarangan. Tak semua perempuan layak diperjuangkan. Laki-laki lebih repot karena selain mencari perempuan yang tepat untuk dijadikan istri, ia pun harus terus memperbaiki diri agar pantas meminang perempuan yang berkualitas. Sedangkan perempuan tinggal menerima atau menolak saja, meskipun tentu tidak dilarang untuk mengajukan diri seperti Khadijah.
Saya sendiri, daripada repot-repot ikut mencari, lebih memilih untuk meningkatkan kualitas diri. Saya berjuang untuk menjadi layak diperjuangkan. Bukan hanya semata belajar memasak, menyapu, dan mengurus rumah, tetapi juga memperkaya wawasan. Untuk apa seorang istri yang cantik tetapi jika suami mengajak bicara soal ilmu dunia dan akhirat ia tak mengerti? Untuk apa hanya rajin menyapu dan pintar memasak jika dalam setiap bincang dan canda tak mampu membawa pasangan lebih dekat padaNya?
Bukankah teman terbaik adalah yang ketika kita bersamanya, surga terasa semakin dekat?
Konsekuensi dari memilih pasif dalam mencari adalah bersiap sedia untuk menerima siapapun yang datang setelah berjuang, jika tak menemukan alasan yang sesuai syariat dan hati tidak memiliki kecenderungan (dalam buku "Al-Mar'ah Al-Muslimah"). Pun hakikatnya cinta bukanlah jatuh, tetapi dibangun. Ia yang memilih jatuh beruntung jika jatuh pada landasan yang tepat, tapi bagaimana jika tidak? Menjaganya hingga datang waktu untuk meletakkan batu-bata pertama bagi saya adalah lebih bijak daripada menjatuhkan hati pada landasan yang belum pasti.
Bukankah teman terbaik adalah yang ketika kita bersamanya, surga terasa semakin dekat?
Konsekuensi dari memilih pasif dalam mencari adalah bersiap sedia untuk menerima siapapun yang datang setelah berjuang, jika tak menemukan alasan yang sesuai syariat dan hati tidak memiliki kecenderungan (dalam buku "Al-Mar'ah Al-Muslimah"). Pun hakikatnya cinta bukanlah jatuh, tetapi dibangun. Ia yang memilih jatuh beruntung jika jatuh pada landasan yang tepat, tapi bagaimana jika tidak? Menjaganya hingga datang waktu untuk meletakkan batu-bata pertama bagi saya adalah lebih bijak daripada menjatuhkan hati pada landasan yang belum pasti.
Bukan perkara tak berani berjuang dan takut mengambil risiko patah hati atau kecewa. Ini perkara menjaga perasaan untuk tetap pada tempatnya. Bagaimanapun rasa suka adalah fitrah yang jadi urusanNya untuk diberikan pada siapa. Tapi urusan bagaimana menjaga dan menyalurkannya ada di tangan kita.
Seperti Fatimah putri Rasulullah. Ia punya cinta sewajarnya gadis biasa. Tapi ia memendamnya, hanya membagi perasaannya dengan Allah semata. Sahabat-sahabat Rasul datang meminang dan ia pun bersiap untuk menerima siapapun yang disetujui ayahnya. Ia menjaga hatinya dan tak membiarkan cinta mengalahkan iman. Sebab hakikatnya hati kita memang hanya milikNya. Bagaimana jika akhir ceritanya berbeda? Bagaimana jika sampai akhir cerita, Ali tidak datang? Saya yakin Fatimah tetap tidak keberatan. Ia, bagaimanapun, jika menikah atas dasar iman, rasa kecewa dan patah hati hanyalah kerikil dalam pendakian.
Barangkali memang sedih, sakit, dan sulit. Apalagi di masa kini ketika perempuan yang memendam perasaan dianggap sebagai konstruksi sosial patriarkal, apalagi norma agama. Padahal menurut saya tidak banyak hubungannya. Perempuan bebas menjadi seperti apa dan siapa saja, termasuk dalam urusan cinta. Jika ingin menyatakan, nyatakan saja, Islam tidak melarang. Menyatakan atau diam itu pilihan. Seperti yang saya sebut sebelumnya, perempuan punya banyak pilihan teladan. Nyatakan jika sang lelaki dirasa pantas untuk menerima proposal kita duluan. Nyatakan dengan cara yang direstuiNya. Hati kita milikNya, maka apapun transaksinya harus ikut prosedurNya. Jika masih ragu, maka tunggu.
Beruntunglah kita yang menjadi perempuan. Kita punya kebebasan untuk memilih teladan. Kita bebas memilih jalan. Selamat menjadi perempuan!
29 Maret 2016


Tidak ada komentar:
Posting Komentar