Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juli 2018

Cerpen: Tanah yang Dihuni Manusia

(Pertama kali terbit di https://www.selasar.com/jurnal/32542/Cerpen:-Tanah-yang-Dihuni-Manusia Februari 2016)
Di sebuah desa yang jauh, ada sebuah pemakaman umum tempat orang-orang yang mati disemayamkan. Di areal pemakaman itu, tinggallah seorang tukang gali kubur tua bersama istrinya yang renta. Tak ada yang tahu atau peduli kemana anak-anak mereka, atau bahkan apakah mereka punya anak. Warga desa hanya tahu keduanya tinggal di sebuah pondok kecil di samping pintu masuk pemakaman.

Cerpen: Anak Kampung Kami

(Pertama diterbitkan di https://www.selasar.com/jurnal/32456/Cerpen-Anak-Kampung-Kami tanggal 6 Februari 2016)
Sepucuk surat Darmin terima dari Pak Pos sore ini. Anak keduanya, kemudian berubah status menjadi anak satu-satunya setelah peristiwa kecelakaan menimpa sang istri dan si sulung, telah sampai dengan selamat di kota. Radha, anak kedua Darmin, beberapa pekan lalu mengatakan hendak merantau. Tujuannya sama seperti beberapa orang pemuda di kampung kami yang terlebih dahulu melakukan hal serupa, mencari peruntungan demi kehidupan yang lebih baik. Aku menepuk pundak Darmin, melempar senyum yang ia sudah tahu artinya.

Rabu, 30 Mei 2018

Cerpen: Ingatan

Ada wangi melati di kamarku. Samar-samar terdengar juga suara musik klasik. Bach-kah? Rachmaninov atau Schubert aku tak tahu. Cuma tahu Beethoven dan Mozart. Ayah memutarnya di ruang makan. Sebenarnya ayah fans berat Iwan Fals. Jadi kenapa tidak memutar Iwan Fals saja?

Senin, 13 November 2017

Cerpen: Mendengarkan Epik High



Mendengarkan Epik High di daftar putar. Jangan tanya arti liriknya. Menikmati musik tidak memiliki pemahaman atas lirik sebagai prasyaratnya. Biasanya aku mendengar Epik High ketika di perjalanan dan sendirian. Terutama salah satu lagu di album terbarunya yang judulnya Home is Far Away. Sambil menatap ke luar jendela jika kebetulan aku duduk tepat di sampingnya. Dengan tempo lagu yang tidak terlalu cepat, menyamakan tempo dengan suara mesin kendaraan dan pemandangan luar jendela yang seolah ikut melesat. Seharusnya daftar putar lagu di kendaraan diisi album Epik High atau musik-musik indie bertempo medium, bukan dangdut koplo yang membikin kepala pening. Sebab perjalanan haruslah dihadapi dalam damai dan tenang.

Jumat, 20 Mei 2016

Gang Dieng RW 2 Desa Wero (Part 1: Lahirnya Legenda)

Kuberi tahu kau, aku adalah legenda hidup. Kisah kehidupanku sudah terkenal di wilayah RW sini. Anak-anak sudah diperingatkan orang tua mereka agar tak mengusikku, apalagi ketika aku sedang berjemur. Siapa pun wajib menyingkir membuka jalan saat aku mau lewat. Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya. Aku bisa membuatnya mengalami trauma berkepanjangan.

Seorang perempuan yang biasa dipanggil warga sekitar "Umi" memisahkanku dari orang tua dan saudara-saudaraku yang lain di RT sebelah. Aku masih berusia 2 bulan. Umi membawaku ke rumahnya dan melatihku mengusir tikus di warung dan dapurnya. Aku melakukannya dengan terpaksa selama berbulan-bulan sampai aku jengah. Tikus-tikus itu terlalu bodoh dan lamban. Pemburu sejati tak puas dengan mangsa yang mudah ditangkap.

Rabu, 16 Maret 2016

Jejak

Lagi-lagi aku menemui Aris sepulang sekolah. Di pohon kelapa dekat sungai itu, aku tahu dia juga sedang menungguku. Aku tak sabar bercerita tentang kejadian lucu di kelasku tadi. Tak lupa kuselipkan sebatang gulali ke tas untuk kuberikan padanya jika dia bisa menjawab pertanyaan dariku.
Kutemukan Aris menungguku dengan bermain yoyo di atas bongkahan batu besar di samping pohon kelapa di pinggir sungai. Markas kami.

Jumat, 11 Maret 2016

Got Accident for The First Time

I got my first accident this evening. I was braking to turn right. Then I felt pushed ahead, like in slow motion, and with my motorcycle I was falling to the left.

The first thing I thought after bumping the road was, "My laptop! Is my laptop okay?" After I took my bag, thank God it was okay, someone lifted me and helped me walk to the side road. He lifted up the motorcycle and told me to sit down. I didn't know what was going on.

Jumat, 15 Januari 2016

Jalan Raya yang Kita Buat



Di sebuah kertas kosong, kudeskripsikan untukmu, gambaran sebuah jalan raya di antara rumah kita biar bisa kau buat jadi nyata. Meski awalnya hanya sedikit yang memakai, ternyata makin lama makin banyak orang berlalu-lalang melewati rumah kita. Jalanan itu jadi tempat orang-orang mencari kekasih. Atau jadi sarana para penyendiri yang menghabiskan waktu menikmati pemandangan dan merenungi pembenaran-pembenaran bagi kesendirian mereka. Karena di kanvas itu kugambarkan juga gerumbul-gerumbul pohon dan satu-dua sungai dengan jembatan di atasnya. Di bus yang berlalu di jalan raya itu, kita bertemu.

Minggu, 03 Januari 2016

Surat Cinta untuk Niah

Assalamu'alaykum wr. wb.
Semoga Allah senantiasa mengiringi langkahmu dengan lindunganNya.

Kutulis surat kecil ini untuk sahabatku yang Insha Allah di dunia dan akhirat. Kita dipertemukan, aku yakin bukan dalam ketidaksengajaan. Yang kuyakini, segala yang terjadi telah dituliskanNya dengan sempurna hingga tiap detilnya. Kuyakini juga bahwa selalu ada pembelajaran bagi mereka yang berpikir dan mencari hikmah dalam setiap takdir yang disiapkan Allah. Termasuk kesempatan untuk mengenalmu, baik sebagai pribadi maupun partner yang membuatku mendapatkan pelajaran, disadari atau tidak.

Ailsaku

Padanya mataku selalu tertuju. Di antara lautan manusia yang berlalu-lalang keluar-masuk pandangan, tatapku selalu bisa menangkapnya. Ya, aku selalu bisa menangkap geraknya dalam frame-frame­ ingatan otakku yang kecil. Jika tak terlihat, mataku gelisah, leherku sibuk menengak-nengok ke semua arah. Aku berharap bisa melihatmu muncul dari balik dinding, dari belokan koridor, dari tangga mushola, dari semua sudut yang bisa tertangkap pandangku. Aku tenang dengan keberadaanmu. Ailsa, aku sungguh mencintaimu.

Satu Bijak tentang Bunga

(There's a sudden feeling to post this after hearing your story. I wrote this more than a year ago, didn't mean to share it. Without a need to mention, hope you still read this)

Ada dua bunga yang disodorkan padamu tepat di hari kelulusanmu dari universitas. Keduanya bunga mawar yang merah mempesona. Tanpa duri, indah dipandang. Ia sangat cocok dengan gaun kebaya merah jambu yang kau pakai.

Bunga pertama dibawakan oleh laki-laki yang kau cintai. Bunga yang dibuat dengan tangan dan dipesan khusus untukmu. Kau tak perlu merawatnya. Tinggal masukkan ke vas dan pajang di meja ruang tamumu, atau di kamar agar kau bisa melihatnya setiap hari. Bunga itu tak akan pernah layu walau kau lupa menyiramnya.

The Girl who Lets Him Go

Once, a girl and a boy met up under a tree near a river. It would be more romantic to story-telling if the tree was a willow or cherry. But they only found a mango tree by the river, so it was nevermind. Who would care about the tree when the one who always filled your dreams sitting beside you?

The boy didn't say anything, so did the girl. Sometimes they would just glance to each other ("Is that a rainbow in her eyes?" said the boy, deep in his heart), too shy to start a conversation. Was that around 30 minutes? An hour, or even more? They both never counted. As the time flied and days passed, they finally knew each other names and addresses.

After D(e)ad Scenario

9 January 2015, 2.00 pm
Let me tell you one thing. This piece of paper is not a kind of confession. No one will ever read this and everything’s better being buried along with that crushed body.

I didn’t find anyone else who can hold himself from telling others what I was about to tell. People just a broken piece of glass that can’t have any water filled into. As soon after I told them, they would whisper it throughout the world. I trust no one.

Rabu, 23 Desember 2015

Diari Resepsi -in her eyes-


Aku pernah menjadi wanita paling egois di dunia. Memintanya datang dengan membawa banyak cinderamata dan menginginkannya jadi milikku tanpa aku harus membayar apa-apa sebagai gantinya.

Aku pernah menjadi angkuh, menyilangkan lengan di dada dan mengangkat dagu ketika dia mengetuk pintu. Aku tak membelanya ketika orang tuaku bertanya apa yang ia bawa. Dan ia menundukkanku ketika dengan menatapku, ia berkata hanya membawa hidupnya dan tidak akan memberikan apa yang tidak ia bawa. Di dalam matanya, aku menemukan jalan kepatuhan dan perlindungan.

Diari Resepsi -in his eyes-


Hari ini ia adalah wanita yang paling bersedih hatinya. Tidak apa, karena setelah ini aku akan selalu membuatnya bahagia.

Hari ini ia menekan segala perasaannya dan menyimpulkannya sebagai senyum yang dikembangkan ke siapa saja. Kugenggam saja erat tangannya, membantunya mempertahankan bendungan air mata yang ingin segera tumpah. Tidak apa, karena setelah ini aku akan menjadi tempat baginya untuk menangis sepuasnya.

Rabu, 22 April 2015

Pesta Keluarga

Apa kau menyebutku jahat dengan memintamu mengenakan topeng terbaikmu dalam pestaku? Aku mengundangmu dalam pesta yang kuadakan. Sekalipun sejak awal telah kau tolak, tetap kuantarkan undangan pengharapan ke depan pintu rumahmu. Berharap kita jumpa lagi.
Kukatakan padamu, berkorbanlah demi pestaku. 

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...