Minggu, 03 Januari 2016

Surat Cinta untuk Niah

Assalamu'alaykum wr. wb.
Semoga Allah senantiasa mengiringi langkahmu dengan lindunganNya.

Kutulis surat kecil ini untuk sahabatku yang Insha Allah di dunia dan akhirat. Kita dipertemukan, aku yakin bukan dalam ketidaksengajaan. Yang kuyakini, segala yang terjadi telah dituliskanNya dengan sempurna hingga tiap detilnya. Kuyakini juga bahwa selalu ada pembelajaran bagi mereka yang berpikir dan mencari hikmah dalam setiap takdir yang disiapkan Allah. Termasuk kesempatan untuk mengenalmu, baik sebagai pribadi maupun partner yang membuatku mendapatkan pelajaran, disadari atau tidak.

Pada momen-momen awal pertemuan yang berlangsung apa adanya dan tanpa ada dari kita yang bersikap dibuat-buat, kupikir semua biasa saja. Perkenalan normal, mengangguk dan sedikit menyapa saat bertemu di koridor-koridor kampus. Apakah kau pernah terpikir bahwa suatu ketika kita akan saling mendoakan hingga seperti ini? Apakah sudah ada rencana dalam hatimu bahwa akan kau sebut namaku dalam dzikir-dzikir panjangmu? Barangkali kita sama. Kita masih banyak dipisahkan oleh canggung yang menciptakan jarak, bahkan dalam doa.

Maka frekuensi pertemuan menjadi solusi kecanggungan dan ketidakdekatan. Kita disatukan dalam satu divisi, mengemban amanah yang sama. Kita berdiri sama tinggi, duduk sama datar di syuro-syuro yang Insha Allah penuh berkah. Satu, dua, rasa keberatan dan tidak suka pada tiap perdebatan antar dua sisi hijab adalah dinamika seru yang selalu terjadi. Normal kan? Senormal itu ukhuwah kita dibangun dalam batas-batas pagar yang dibuatNya. Maka mari biarkan ini mengalir juga apa adanya. Karena segala prosesnya begitu indah. Kita tidak akan merusaknya dengan kesegeraan dan sikap buru-buru.

Kemudian kau mulai berani bercerita tentang hatimu. Kau ingin perasaanmu didengar, ditanggapi. Ya, sepertinya aku gagal memposisikan diriku sebagai telinga yang mendengar dan dada yang lapang memahami. Kupikir saat itu, masalah dunia ini terlalu besar untuk ditinggalkan dan mendengarkanmu memuji orang lain. Barangkali saat itu aku menganggap diriku Power Ranger atau pahlawan penyelamat dunia yang punya kewajiban menyelesaikan masalah umat manusia. Atau terlalu sombong untuk mau menundukkan diri, melihatmu yang jelas membutuhkanku tepat di hadapan. Maka jika tak kudapatkan maaf darimu, biar Allah yang menghukumku dengan caraNya.

Tapi bukan itu yang ingin kusampaikan. Aku tak akan banyak meminta maaf. Sejujurnya aku tak suka minta maaf. Pembelaanku, sikapku di paragraf sebelumnya adalah agar kau mengerti. Hatimu terlalu berharga untuk diketahui isinya oleh dunia, oleh orang-orang yang tak berhak mendengarnya. Bahwa izzah dan iffahmu sebagai seorang muslimah adalah harga tak ternilai yang hanya berhak dimiliki olehNya dan orang-orang yang disiapkanNya untukmu. Ibarat pakaian, aku tak ingin kau menjadi bagian yang dipajang di etalase kaca dan bisa dilihat, disentuh orang-orang. Kau adalah ciptaanNya yang eksklusif, limited, berharga. Disimpan dalam kotak perhiasan yang indah. Hanya orang-orang yang benar-benar berniat mengenalmu, memilikimu, dan mempunyai modal iman yang cukup yang bisa membuka kotak dan melihat keindahanmu. Karena disanalah letak kehormatan dan harga dirimu. Percayalah, Ni, jadikan orang yang mengenalmu adalah orang-orang pilihan yang telah kau pilih sendiri dengan takaran yang telah ditetapkanNya.

Sahabatku yang Insha Allah diridhai Allah, tak ada maksudku di sini untuk menghalangimu bercerita atau sekadar mencurahkan perasaan yang meluap, sesak di dadamu. Berceritalah, mengeluhlah, bergembiralah. Aku akan selalu menjadi sahabat yang mendengar. Ingatkan saja ketika nantinya tak kupenuhi janji ini. Ingatkan dengan cara yang kau suka.

Tentang cinta, kedalaman perasaanmu, aku mana tahu. Aku hanya bisa menebak dan mengira, membuat persepsi. Betapa senang aku ketika melihatmu berbinar, bercerita tentang bunga-bunga yang bertumbuh dalam hatimu. Tapi seperti yang pernah kukatakan padamu dalam pesan di suatu malam. Perasaan yang indah, sejuk, dan berharga, akan menjadi sempurna jika tepat pada waktunya. Jangan jerumuskan dirimu ke dalam jilatan neraka yang panasnya tak akan tertahankan. Hati kita adalah milikNya. Hanya milikNya.

Mari kita jadikan kisah Ali dan Fatimah sebagai sumber belajar yang baik. Cinta mereka, bahkan setan pun tak tahu hingga Allah yang membuka rahasia melalui RasulNya. Sungguh mulia, terhormat, dan indah kisahnya. Mencintai dalam diam adalah sejatinya cinta, karena di dalamnya kita menyerahkan semuanya kepada Pemilik Hati. Banyak tantangannya, banyak hambatannya, tapi ujungnya sempurna, bukan? Kisah cinta paling indah sejagad raya, menurutku. Aku menangis jika membayangkan diriku yang sangat ingin seperti mereka. Kuingin kau juga demikian, Ni. Menyimpan rasa-rasa yang saat ini belum perlu, belum pantas. Menjadikan hanya Dia satu-satunya yang tahu, pusat orientasi, satu-satunya pusat gravitasi segala doa dan pikiran. Sungguh tidak pantas jika kita menduakanNya dengan hamba yang sama-sama tidak berdayanya dengan kita.

Ni, aku mencintaimu karena Allah. Memang tak akan kukatakan secara langsung padamu. Mungkin tak akan pernah. Tapi setiap orang punya cara masing-masing dalam mengungkapkan perasaannya. Kutegur kau dengan cinta, Insha Allah. Bukan aku tak suka, tapi karena sungguh aku ingin kau menempati tempat yang mulia di sisiNya. Perasaanmu begitu indah. Tak semua bisa mengungkapkan perasaan semudah kau menyatakannya. Itu bukannya memalukan, justru dengan demikian kau mempermudah orang lain untuk memahamimu. Tapi, sekali lagi, tak semua orang berhak untuk tahu sebesar apa mulianya hatimu.

Seperti perkenalan kita yang wajar, normal, dan mengalir apa adanya. Semoga dalam tiap langkah perjalanan kita ini selalu ada kesadaran-kesadaran lain yang tumbuh dalam pemahaman kita akan apa-apa yang Ia cintai dan tidak Ia cintai. Semoga kita bisa melewati semua tahapan proses yang ditetapkanNya dengan istiqamah dan lulus ujian kehidupanNya dengan khusnul khotimah.


Teriring doa terbaikku untukmu,Ni...
Semoga kau selalu sehat dan memberi dinamika tersendiri dalam proses belajarku.
Wassalamu'alaykum wr. wb...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...