Kamis, 13 April 2017

Memang Seperti Itulah Cinta

Memang seperti itulah dakwah. 

Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah menyedot saripati energimu, sampai tulang belulangmu, sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari. 

Sebagaimana rambut Rasulullah yang memutih lebih cepat sebelum umur menyulapnya karena beban ayat yang diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Kepemimpinannya yang sebentar membuat umat muslim bingung karena tidak ada lagi orang miskin untuk diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak oleh penyakit dalam dua tahun kepemimpinannya. Namun itulah yang memang ia harapkan, meninggal sebagai jiwa yang tenang. 

Di akhirat nanti barangkali kita akan melihat tubuh Umar bin Khattab yang tercabik dan kepalanya botak. Tubuh perkasa itu runtuh dan terpaksa membawa tongkat kemana-mana. Kurang heroik? Akhir hidupnya, tubuhnya dihiasi luka tikam yang tertoreh saat ia sedang bermesraan dengan Rabbnya saat shalat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Dakwah bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari, setiap saat mengiringi.

Satu kisah heroik akan segera disambung dengan kisah heroik lainnya, dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani. Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai kemanapun mereka pergi dan akhirnya mereka beradaptasi. Jika iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Yakinlah rasa lelah itu sendiri yang akan lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak lagi terasa sebagai luka. Hingga hasrat untuk mengeluh tak lagi ada dibandingkan dengan jihad yang begitu cantik.

Umar saat Rasulullah wafat berteriak histeris dan mengamuk. Saat Abu Bakar wafat, ia tak lagi mengamuk. Bukannya ia tak cinta pada Abu Bakar. Namun hatinya telah terbiasa, hatinya telah mampu menilai ditinggalkan sebagai suatu kewajaran.

Pejuang yang heboh memamerkan amal-amalnya adalah anak kemarin sore yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanan yang baru ia lakukan. Mereka masih jarang tersakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Karenanya saat mereka melakukannya, mereka merasa sebagai orang besar. Merekalah yang justru menjadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “Ya Allah, berilah ia petunjuk. Sungguh engkau Maha Pengasih dan Penyayang...”

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak dan jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya terus memancarkan cinta, mengajak kita untuk terus berlari.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Teruslah terjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”


(Today is one of the days when the longing inside me could burst out with just a slight touch. Let's meet again, Father, someday when the sun shines at its brightest)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...