Pulang kampung adalah keputusan besar. Ketika hendak kuliah, hampir pasti saya yakin calon-calon mahasiswa berkeinginan untuk membangun kampung halamannya setelah lulus nanti. Ada banyak cita-cita yang disusun setinggi angkasa dan seluas padang sabana: suatu saat, akan ada yang berubah dengan saya menjadi sarjana. Niat itu mulia, diaminkan seluruh penduduk desa, bahkan tak sedikit mahasiswa yang keberangkatannya diantar oleh tetangga-tetangganya dengan doa-doa mengangkasa dan sedikit iuran uang saku. Maksudnya saya. Ah, betapa hutang itu berat tanggungannya.
Pulang kampung adalah keputusan besar. Kota menjanjikan banyak peluang. Setelah lulus, saya ingat tentang niatan pulang kampung. Namun pada ingatan itu saya membisikkan, "Nanti, cari pengalaman kerja dulu. Mau membangun dengan apa kalau hanya punya ilmu tapi tanpa pengalaman?" Dengan demikian satu-dua tahun berlanjut, luntang-lantung di ibukota demi mencari pengalaman yang saya pikir hanya ibukota yang mampu menyediakan. Setiap kali ingatan tentang kampung halaman terbersit, alibi cari pengalaman selalu efektif untuk menyingkirkannya jauh-jauh ke sudut pikiran.
"Nanti, belum cukup..."
"Setahun lagi, sebentar lagi..."
"Tanggung, sedang ada proyek bagus..."
Saya selalu menemukan alasan untuk terus merantau, sampai akhirnya tiba pada satu titik dimana dalih pengalaman tergantikan oleh pertanyaan, "Memangnya ada apa di kampung halaman?"
Kemampuan dan pengetahuan, meski diam-diam, selalu membutuhkan apresiasi dan tempat pengakuan. Kiranya disitulah keangkuhan bermula. Di kampung halaman tak saya temukan tempat penampungan segala pengetahuan yang saya kira saya sudah punyai. Ketika seseorang merasa tak punya tempat, ia cenderung menyalahkan situasi. Mengapa kampung ini begitu kosong? Mengapa kampung ini begitu tertinggal? Mengapa kampung ini tak menyediakan tempat berkembang?
Seonggok jagung di ruangan tak akan menjadi apa-apa jika terkunci bersama sarjana yang ilmunya hanya berasal dari buku.
Pulang kampung adalah keputusan berat. Karenanya saya memilih merantau lagi. Kekecewaan karena tak menemukan tempat dalam masyarakat terus mengiringi setiap keputusan bertahan di ibukota yang keras. Di sini saja, tak ada apa-apa di kampung. Di sana saya tak merasa dihargai, disana tak ada kawan diskusi. Di sana tak ada tempat untuk mengamalkan ilmu pengetahuan. Kesombongan intelektual membunuh niat mulia pelan-pelan. Niat membangun kampung halaman perlahan mati bersamaan menumpuknya tuntutan-tuntutan atas pengakuan dan sambutan nasib baik di kampung halaman.
Barangkali sarjana itu sudah merasa berjuang di masa studinya di kampus. Barangkali ia merasa sudah begitu keras belajar siang-malam, sembari berjualan donat atau kerja sambilan mencukupi kebutuhan uang saku karena beasiswa turun terlambat. Barangkali ia berpikir bahwa setelah semua kerja keras itu, kelulusannya haruslah disambut dengan gempita: kursi jabatan terhormat di tengah kaumnya. Atau barangkali ia hanya berpikir sesederhana jadi tulang punggung keluarga setelah wisuda.
Pulang kampung adalah keputusan berat. Seperti mengalungkan rantai di lehermu, kewajiban-kewajiban dan rutinitas rumah selalu membuatmu sibuk dan berpikir ulang tiap kali ingin pergi. Mendadak semua jadi terasa jauh: tanah rantau, peluang kerja, dan cita-cita berkelana. Semua jadi tak cukup ditempuh dengan sekali naik angkot. Kabar tentang pencapaian-pencapaian teman-temanmu di perantauan akan membuatmu gila dan mengutuki keadaan.
"It's not running away when you're going back home." (Paul Acampora)Sarjana yang merasa digdaya ini lupa bahwa karena kekosongan di kampung halamannya itulah ia memutuskan untuk pergi dan mencari bekal untuk mengisi. Ia lupa bahwa dialah yang jadi sarjana, bukan tetangga-tetangganya. Bagaimana mungkin seorang sarjana menuntut tetangga-tetangganya menyediakan pekerjaan dengan gaji standar ibukota di tengah-tengah hamparan sawah? Bagaimana bisa seorang sarjana mengharapkan lawan diskusi setara di tengah-tengah sulitnya akses ke sekolah?
Seorang sarjana tidak layak menuntut lebih dari masyarakatnya, terutama jika ia tahu masyarakatnya tak punya kesempatan yang sama atas pendidikan. Justru ia diharapkan menjadi mercusuar perubahan: menunjukkan bahwa yang mustahil menjadi mungkin, yang tak terbayangkan menjadi mudah digambarkan. Seorang terdidik yang sehari-harinya memegang buku harus mampu berdialog dengan petani yang memanggul cangkul dan bergelut dengan lumpur. Tantangannya justru bukan akses kepada pemilik jabatan, melainkan berempati pada mereka yang kesulitan mengikuti berubahnya zaman.
Jika berangkat adalah sebuah keberanian menjemput peluang, maka pulang adalah sebuah keberanian menerima keadaan. Di kereta dari ibukota menuju kampung halaman, di kanan-kiri jendela adalah lorong waktu yang berjalan mundur. Pusat perbelanjaan tergantikan sawah-sawah, gedung-gedung semakin rendah, tatap dingin pejalan kaki berubah jadi senyum ramah. Sepanjang perjalanan, kita akan menyadari di kampung halaman ada begitu luas bidang garapan. Sepanjang perjalanan itu pun, kita akan temukan banyak kawan.
Ketika pulang menjadi tujuan, sungguh segalanya menjadi terasa lebih ringan.
Gombong, 10 Juli 2018
Sebuah refleksi ingatan pascakampus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar