Jumat, 13 Mei 2016

Amin

Aku selalu waspada dalam berdoa.
Kadang juga iseng. Menutup dengan amin beberapa harapan yang saat itu kupikir tidak mungkin. Anggap saja aku mengujinya: apakah ia benar-benar mampu menjadikanmu nyata?

Amin ternyata menyimpan lebih banyak rahasia. Sepertiku, memiliki warna berbeda antara kulit dan mata. Yang berbeda, Amin selalu menepati janjinya tak peduli waktu sudah di halte pemberhentian keberapa.

Kupatok Amin di ujung kalimatku malam dulu. Lalu kulupakan. Syukur jika jadi nyata, tak masalah jika terbuang percuma. Syukur kita bisa dekat, tak mengapa jika jarak tetap tak terlipat. Rahasia tetap jadi cara favoritku menyukaimu.

Hingga suatu saat kekuatan Amin menghempaskanku ke udara. Dadaku gegap gempita. Jarak terlipat sempurna. Hei, aku bisa melihatmu! Kau pakai baju biru di kerumunan itu.

Amin mengantarkanmu padaku dengan cara yang manis dan berbahaya. Oh aku suka tantangan dan hal baru. Sampai hal itu menggerogotiku, menguasai otakku yang sebelumnya khusyuk merencanakan ini itu. Dan aku terpeleset jatuh.

Lalu aku berhenti bermain-main dengan Amin. Mantra itu mainan yang terlalu berbahaya. Aku tak berharap masuk neraka, tapi kalimat yang disimpulkan Amin bisa mengantarkanku ke sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...