Minggu, 09 Maret 2014

Pasar Bebas di Pemilu 2019



Annisa Qur'ani, Etoser Jakarta 2011

Pemerintah Indonesia dinilai tidak konsekuen dengan sistem pemerintahannya sendiri. Sejak usia sekolah kita diajarkan bahwa bentuk pemerintahan kita adalah republik dengan sistem presidensial. Akan tetapi pada fakta pelaksanaan pemilunya, legislatif dipilih terlebih dahulu baru kemudian presiden dan wakil presiden, seolah kedudukan keduanya tidak setara. Gugatan terhadap UU dilayangkan kepada Mahkamah Konstitusi. Gugatan tersebut bergulir menjadi topik yang strategis karena menyangkut kepentingan satu negara penuh.

Jumat, 13 September 2013

Dari Tengah Perhimak UI


Oleh Annisa Haq Nur Qur’ani (a.k.a Saho), Perhimak UI 2011
(dibuat dalam rangka Suksesi Ketua Perhimak UI 2013/2014)

Mengapa para mahasiswa yang akan mencalonkan diri menjadi Ketua Perhimak harus membuat esai tentang kepemimpinan? Saya berpikir demikian saat masih menjadi panitia suksesi. Ah, barangkali untuk formalitas saja, itu jawaban spontan yang terpikir. Ideal panitia mengatakan bahwa esai itu akan menunjukkan pemikiran-pemikiran para calon mengenai apa yang akan mereka pimpin nanti. Meliputi konsep yang mereka bawa, rencana-rencana, ide-ide baru. Bisa jadi.

Selasa, 03 September 2013

Rekaman Rasa dalam Sastra



(ditulis dalam rangka Lomba Esai Populer yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia dan Harian Pikiran Rakyat, 2 Mei 2013, meraih juara 3)
 
“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

Sebuah kutipan yang dikatakan oleh Magda Peters, seorang tokoh dalam novel Bumi Manusia karya Premoedya Ananta Toer, merepresentasikan betapa pentingnya posisi satra dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Kebutuhan yang dimaksud bukan kebutuhan makanan, pakaian, maupun kebutuhan fisik lain. Kebutuhan dalam konteks kutipan tersebut maksudnya kebutuhan batin, kebutuhan akan rasa. Kebutuhan yang harus ada untuk dapat menyebut diri sebagai manusia. Agaknya kutipan tersebut juga memposisikan sastra lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan umum lainnya.

Rabu, 03 April 2013

Sebuah Catatan Manis Tentang Kontribusi Anak Rantau



Oleh Annisa Qur’ani, Anggota PERHIMAK UI
 
Sejumlah 40 anak lulusan SMA akan dibawa dari Kebumen ke Depok untuk digembleng selama dua bulan, mulai Mei hingga Juni 2013.  Ini adalah program tahunan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Kebumen Universitas Indonesia (PERHIMAK UI) untuk membantu calon-calon mahasiswa asal Kebumen menghadapi tes seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Sabtu, 20 Oktober 2012

Pada Reformasi, Episode 1


Pada Reformasi, Episode 1
Oleh Annisa Qur’ani

Ref, gue disorientasi. Gue udah memajang diri di depan laptop sejak hampir dua jam yang lalu, tapi nggak mengasilkan apa-apa. Tangan gue selalu otomatis memasang modem dan mengetik situs “F” atau “T” di tab browser gue. Ngegosipin banyak hal nggak jelas sama teman-teman yang online, buat status-status nggak jelas. Dan parahnya, gue mikir, Ref! Gue mikir berat waktu mau buat status itu! Padahal gue aja nggak mikir belajar buat UTS besok.

Jumat, 21 September 2012

Untuk Indonesia, Kita Bercita-Cita


Untuk Indonesia, Kita Bercita-Cita
Oleh Annisa Haq Nur Qur’ani, Beastudi Etos Jakarta 2011

Anak-anak usia sekolah dasar memiliki jawaban rata-rata jika mereka ditanya mengenai cita-cita. Sejumlah profesi yang umum disebutkan biasanya dokter, polisi, astronot, guru, dan pemain bola. Profesi-profesi itu merupakan profesi-profesi yang biasa mereka lihat, baca di buku-buku pegangan sekolah, atau dengar dari orang lain. Jarang ditemukan anak yang memiliki cita-cita berbeda. Cita-cita mulai berubah ketika mereka beranjak dewasa dan melihat lebih banyak hal di sekitar mereka. Mereka menyadari bahwa cita-cita tidak terbatas pada apa yang mereka telah sebutkan di masa kanak-kanak mereka. Selain itu, perubahan cita-cita juga disebabkan adanya masukan-masukan dari eksternal berupa larangan, sugesti, dan dorongan sehingga mereka memiliki perspektif yang lain dan pemahaman mereka berkembang tentang apa yang mereka cita-citakan sebelumnya. Namun saya tidak ingin menggeneralisasi semuanya, mengingat selalu ada yang bisa mempertahankan cita-cita masa kecilnya dan berhasil mewujudkannya.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...