Janji persahabatan itu tak lama. Usai lulus SMA, sahabat yang kemana-mana bersama akan sibuk dengan urusan-urusannya. Frekuensi bicara berkurang bahkan hilang. Kedekatan hati sampai pada titik minimal. Definisi pun berubah dari forever friends jadi sekedar teman SMA.
Makanya, aku sangat senang waktu HPku bergetar karena ada WA darimu. Mentionku di Twitter sebelumnya ternyata membukakan jalan untuk silaturahim kita. Dari 'apa kabar' hingga cerita nostalgia dan di percakapan-percakapan berikutnya kita mengidentifikasi satu sama lain: kamu masih jomblo tapi sok playboy, keranjingan ngomongin politik dan ideologi, lagi pingin cepat kaya, dan butuh teman untuk jadi tempat sampah.
Mostly about social, books, and personal development. No I don't talk about physics and math, but will still come if you offer me a cup of cappuccino. Thank you for visiting my page!
Jumat, 24 Maret 2017
Jumat, 10 Maret 2017
Go Public!
Beberapa teman yang saya kasih limited access ke blog ini kadang suka tanya, "Nis, kenapa blognya nggak go public aja?"
Aduh sist, aku ndak sehumoris admin Twitter TNI_AU yang berani jawab macem-macem pertanyaan dengan kocak. Aku juga ndak secerdas penulis-penulis di mojok.co yang tulisannya menggelitik berdasar atas data, fakta, dan logika. Aku juga udah lupa tuh sekitar tiga atau empat prinsip jurnalisme yang kudu diterapkan tiap kali nulis berita layak baca. Simpelnya aku cuma remah-remah alam semesta yang nggak punya temen curhat jadi bikin blog sebagai pelariannya.
Aduh sist, aku ndak sehumoris admin Twitter TNI_AU yang berani jawab macem-macem pertanyaan dengan kocak. Aku juga ndak secerdas penulis-penulis di mojok.co yang tulisannya menggelitik berdasar atas data, fakta, dan logika. Aku juga udah lupa tuh sekitar tiga atau empat prinsip jurnalisme yang kudu diterapkan tiap kali nulis berita layak baca. Simpelnya aku cuma remah-remah alam semesta yang nggak punya temen curhat jadi bikin blog sebagai pelariannya.
Senin, 13 Februari 2017
Waktu Buku Indie dan Musik Jadi Satu
Hari ini ada acara unik: konser musik digabung dengan pameran buku indie di Mocosik Book and Music Festival di Jogja Expo Center (JEC). Penyanyinya nggak tanggung-tanggung. Panitia mengundang penyanyi tersohor ibukota: Glen Fredly, Tompi, Raisa, Shaggy Dog. Massa berkerumun, baik yang suka pameran buku dan artisnya atau penyuka salah satunya. Yang menarik, orang yang datang untuk nonton konsernya tetap harus beli buku karena tiket konsernya adalah sebuah buku. Dengan bayar Rp 50 ribu, kamu bisa nonton konser sekaligus dapat satu buku yang bisa kamu pilih sendiri.
Kamis, 29 Desember 2016
Dunia yang Ramah
18 Juli 2014
Aku pernah mendengar tentang perang di luar sana. Aku juga
pernah mendengar kisah-kisah di dalamnya yang mengurai air mata. Kita,
nyatanya, belumlah hidup di surga. Bayangan surga adalah noktah-noktah harapan
yang membuat bertahan mereka yang percaya. Aku percaya. Mereka juga percaya.
Sampai masa ketika dunia menjadi ramah untukmu dan tempat
bertumbuh yang ideal bagi anak-anakmu, teruslah percaya. Percaya tak akan
membuat rugi siapa-siapa. Dalam peperangan mereka yang bertemu Tuhannya adalah
mereka yang tidak menyesal. Kamu, janganlah sampai menarik kata-kata dalam doa.
Kamu, teruslah berdiri dan tak perlu berlari. Hidupmu adalah kemenangan, matimu
adalah rahmat.
Menyuap Murid-Murid
Pantai Suwuk ramai. Meski ombak besar-besar dan suaranya
keras menghantam pasir pantai, orang-orang bersikukuh menyorongkan diri ke
tepiannya. Kelima adik-adik binaanku berdiri berjajar menghadap laut, seperti
mematung. Mereka sudah selesai bercebur di pantai sebelumnya yang kami datangi,
Pantai Bopong. Sekarang tinggal sesi jajan dan mengabiskan waktu sebelum Ashar
datang.
Aku melihat mereka mereka dari warung agak jauh dari tepi
pantai. Pantai ini sudah banyak berubah. Deretan warung mengisi sepanjang
tepian jalan setapak semen yang dulunya kosong. Ada bangunan kantor penjaga
pantai di seberang jalan ke arah pantai. Sudah sepenuhnya komersial rupanya.
Selasa, 29 November 2016
Melangkah ke Arena
Dunia pendidikan sebetulnya tidak asing. Sebagai objek kita sudah merasakannya sejak lahir. Sebagai subjek aku sendiri baru merasakannya baru-baru ini saja, selepas SMA dan memasuki masa kuliah. Dari posisi objek yang hanya menerima ilmu dari sana-sini, kemudian mulai tahu ilmu apa yang ingin dimiliki dan melangkahkan kaki mencarinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea
Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...
-
Once, a girl and a boy met up under a tree near a river. It would be more romantic to story-telling if the tree was a willow or cherry. B...
-
(repost, ditulis Mei 2012) Kami hanya batu sandungan Tersempil di antara raksasa-raksasa peradaban Buatmu, tentu merusak pema...