Minggu, 28 Oktober 2018

Berwisata ke Tempat Terbaik di Dunia

Ketika menginjak Jakarta tahun 2011, saya menghabiskan tahun pertama kuliah saya untuk beradaptasi atas segala kekagetan sekaligus ketakjuban melihat langsung kehidupan Jakarta. Misalnya, anak Jakarta ke sekolah naik mobil pribadi! Anak dusun seperti saya yang berangkat-pulang sekolah naik sepeda mini atau numpang angkot, tidak menyangka bahwa kehidupan Jakarta seperti yang tayang di sinetron benar-benar nyata. Gedung-gedung tinggi berisi pegawai-pegawai berpenampilan necis-klimis. Dan kalau nonton film di bioskop! Saya sebagai anak hasil produk lokal Kebumen dan belum pernah ke bioskop merasa kesulitan dalam memproses semua perubahan di depan mata. Apalagi ketika naik KRL dari Depok menuju Jakarta dan melihat kontrasnya kehidupan di kanan-kiri rel-relnya, yang bahkan melampaui imajinasi terliar saya. Rumah-rumah kardus berimpitan di antara rel yang mengular menunju stasiun besar Manggarai.

Senin, 30 Juli 2018

Cerpen: Tanah yang Dihuni Manusia

(Pertama kali terbit di https://www.selasar.com/jurnal/32542/Cerpen:-Tanah-yang-Dihuni-Manusia Februari 2016)
Di sebuah desa yang jauh, ada sebuah pemakaman umum tempat orang-orang yang mati disemayamkan. Di areal pemakaman itu, tinggallah seorang tukang gali kubur tua bersama istrinya yang renta. Tak ada yang tahu atau peduli kemana anak-anak mereka, atau bahkan apakah mereka punya anak. Warga desa hanya tahu keduanya tinggal di sebuah pondok kecil di samping pintu masuk pemakaman.

Cerpen: Anak Kampung Kami

(Pertama diterbitkan di https://www.selasar.com/jurnal/32456/Cerpen-Anak-Kampung-Kami tanggal 6 Februari 2016)
Sepucuk surat Darmin terima dari Pak Pos sore ini. Anak keduanya, kemudian berubah status menjadi anak satu-satunya setelah peristiwa kecelakaan menimpa sang istri dan si sulung, telah sampai dengan selamat di kota. Radha, anak kedua Darmin, beberapa pekan lalu mengatakan hendak merantau. Tujuannya sama seperti beberapa orang pemuda di kampung kami yang terlebih dahulu melakukan hal serupa, mencari peruntungan demi kehidupan yang lebih baik. Aku menepuk pundak Darmin, melempar senyum yang ia sudah tahu artinya.

Complete Solitude (Travel Journal in Surumanis Beach)

(first published in https://thecoffeelicious.com/complete-solitude-93532d93adf2 at the date Feb 23, 2016)
By the time you climb down the cliff, you’ll hear a song you’ve never heard. But you know, that song is already your favorite. It’s sung by the wind, and the waves play instrument together with whispering sands when they’re getting in touch with the water.

How much price are you willing to pay to let your life go on?

(my first article published on medium.com. The date was Feb 10, 2016)

How can you possibly let go of the past? How much effort do you give? How much price are you willing to pay?

It was a cold January when I first realized that everything that I had could be gone in just seconds. A father that I loved the most, a caring family man, my greatest hero in the world (just can be compared with Batman, maybe), had passed away. I remembered having a conversation with him by phone just a day before, talking about my graduation ceremony in the next month.

Selasa, 10 Juli 2018

Pohon Kopi Solusi Pemanfaatan Lahan Hutan Bernilai Ekonomi

(artikel untuk majalah Investasi, terbitan BPMPT Kebumen bulan Juni/Juli 2018)

Tren minum kopi tengah merambah Kebumen. Kafe dan kedai kopi bermunculan. Penikmat kopi instan mulai berkenalan dengan biji kopi asli yang disangrai. Tapi kopi lokal Kebumen sendiri belum banyak dikenal. Bahkan banyak yang belum tahu bahwa kopi bisa tumbuh di Kebumen yang merupakan daerah pesisir. Padahal di sejumlah daerah di Kabupaten Kebumen terdapat kebun kopi yang dikelola petani lokal.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...