Mengamati lewat
media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya
kegelisahan di kepala bisa terasa lebih sederhana jika dituangkan dalam
tulisan. Tetapi semakin mempelajari isu, semakin mencoba melihat dari berbagai
sudut pandang melalui diskusi-diskusi dengan kawan-kawan, semakin tidak layak
rasanya j ika semua dimampatkan dalam tulisan dua-tiga halaman.
Mostly about social, books, and personal development. No I don't talk about physics and math, but will still come if you offer me a cup of cappuccino. Thank you for visiting my page!
Senin, 30 September 2019
Minggu, 08 September 2019
Pemanfaatan Ruang Publik di Wisata Berbasis Wilayah: Pengalaman Melancong di Seoul, Korea Selatan
Abaikan judul
artikel yang kedengarannya cukup berat. Sebetulnya saya hanya mau bercerita
sedikit tentang pengalaman liburan di Seoul, ibukota Korea Selatan pada awal
Maret lalu yang selalu tertunda. Pasalnya waktu menulis cerita perjalanan, saya
kesusahan merangkup sembilan hari petualangan ke dalam satu artikel. Alhasil
saya mencoba memecahnya menjadi beberapa tulisan. Salah satunya artikel ini
yang saya tulis setelah mengikuti diskusi pariwisata di Roemah Martha Tilaar
tentang sudut pandang konsumen terhadap wisata Kebumen.
Minggu, 04 Agustus 2019
Objektivikasi Islam dalam Kemajemukan Umat
Review bab-bab awal buku “Kekerasan dan
Identitas” dan “Identitas Politik Umat Islam”
Abad 17 dan 18
menjadi era munculnya sekulerisme yang memandang agama sebagai masalah individu
dan seharusnya dipisahkan dari persoalan negara. Paham sekulerisme lahir dari
pengalaman sejarah Barat yang menemukan ketidaksesuaian antara doktrin agama
yang diatur gereja-gereja Eropa dengan penemuan-penemuan sains dan perkembangan
logika masyarakatnya. Doktrin agama dianggap usang, tidak
mampu mengikuti perkembangan zaman dan justru menghambat ilmu pengetahuan. Konflik bermunculan bersamaan menguatnya dukungan dan tuntutan atas penghargaan hak-hak individu atas kebebasan yang sebelumnya dibatasi oleh otoritas keagamaan yang kuat pengaruhnya dalam tata pemerintahan. Kritik-kritik yang dilontarkan pendukung sekulerisme memaksa otoritas keagamaan
untuk menyerahkan wewenang mereka di ruang publik dan mundur ke ruang-ruang
privat yang mengurusi sebatas individu dan komunitas kecil.
Tahapan Pendekatan Partisipatif dalam Pengembangan Komunitas
(Resume oleh Annisa Qurani, Roemah Martha Tilaar)
"Pengembangan
komunitas (community development)
adalah aksi kolektif untuk sebuah hasil (result)
dan dampak (output) berupa keberdayaan
dari sebuah komunitas."
Ada dua unsur
penting yang ditekankan pada kalimat di atas. Yang pertama adalah aksi kolekif,
artinya menekankan pada kelompok, bukan bersifat individual. Yang kedua adalah berdaya,
sebuah kondisi dimana komunitas memahami kondisinya sendiri, mampu membaca
masalah, dan mencapai konsensus tentang permasalahan atau kebutuhan bersama.
Sabtu, 16 Maret 2019
Rumah Tangga (Prosa)
Nanti kita
bekerja keras sampai lupa bahagia. Lalu kita bangun rumah di gunung tepi laut,
yang jauh, yang hanya bisa dikunjungi kalau kangen. Atau waktu kita hampir mati
kelaparan.
Selasa, 25 Desember 2018
Pros and Cons of Working in a Local NGO
(first published in https://digitalsenior.sg/working-in-a-local-ngo/)
Working in an NGO
offers many challenges and priceless lifetime experiences, more so
international ones. They have long term programs and stable funding from companies,
as well as government to support them, as their programs receive international
recognition for giving positive impact for its beneficiaries.
It is the same
with national and local NGOs in terms of
having long term programs and giving impact, but differences in funding and
recognition create different stories. Despite various issues covered, the area
of coverage and availability of local resources give different dynamics in
local NGOs movement.
Working in an NGO
with a great cause is good, but first, we need to understand its challenges and
environment so that we do not have false expectations. Here are some pros and
cons if you are considering to work in a local NGO after graduation.
7 Things That Make Me Really Happy
I am trying to start my weekly writing by following writing themes from 30 Days Writing Challenge. The first theme is to write 7 things that make you really happy. It should be 10, but I can't find the rest. Having a plain character, I usually don't have certain condition for that, but since the theme requires me to write about it, here I am squishing my brain to think about some happy situations:
Senin, 10 Desember 2018
Mencari Tuhan di dalam Kosmos
Sejak dilakukannya pengukuran keliling Bumi oleh
Eratosthenes pada abad ketiga SM, manusia mulai menyadari bahwa Bumi tidaklah
tak terbatas. Abad-abad berikutnya dihabiskan manusia untuk berusaha memahami
posisi mereka di atas bumi dan posisi bumi terhadap matahari, yang dalam
perjalanannya ternyata ditemukanlah planet dan benda-benda angkasa lain yang
sebelumnya tak terbayangkan.
Minggu, 28 Oktober 2018
Berwisata ke Tempat Terbaik di Dunia
Ketika menginjak Jakarta tahun 2011, saya menghabiskan tahun pertama kuliah saya untuk beradaptasi atas segala kekagetan sekaligus ketakjuban melihat langsung kehidupan Jakarta. Misalnya, anak Jakarta ke sekolah naik mobil pribadi! Anak dusun seperti saya yang berangkat-pulang sekolah naik sepeda mini atau numpang angkot, tidak menyangka bahwa kehidupan Jakarta seperti yang tayang di sinetron benar-benar nyata. Gedung-gedung tinggi berisi pegawai-pegawai berpenampilan necis-klimis. Dan kalau nonton film di bioskop! Saya sebagai anak hasil produk lokal Kebumen dan belum pernah ke bioskop merasa kesulitan dalam memproses semua perubahan di depan mata. Apalagi ketika naik KRL dari Depok menuju Jakarta dan melihat kontrasnya kehidupan di kanan-kiri rel-relnya, yang bahkan melampaui imajinasi terliar saya. Rumah-rumah kardus berimpitan di antara rel yang mengular menunju stasiun besar Manggarai.
Senin, 30 Juli 2018
Cerpen: Tanah yang Dihuni Manusia
(Pertama kali terbit di https://www.selasar.com/jurnal/32542/Cerpen:-Tanah-yang-Dihuni-Manusia Februari 2016)
Di sebuah desa yang jauh, ada sebuah pemakaman umum tempat
orang-orang yang mati disemayamkan. Di areal pemakaman itu, tinggallah seorang
tukang gali kubur tua bersama istrinya yang renta. Tak ada yang tahu atau
peduli kemana anak-anak mereka, atau bahkan apakah mereka punya anak. Warga
desa hanya tahu keduanya tinggal di sebuah pondok kecil di samping pintu masuk
pemakaman.
Cerpen: Anak Kampung Kami
(Pertama diterbitkan di https://www.selasar.com/jurnal/32456/Cerpen-Anak-Kampung-Kami tanggal 6 Februari 2016)
Sepucuk surat Darmin terima dari Pak Pos sore ini. Anak keduanya, kemudian berubah status menjadi anak satu-satunya setelah peristiwa kecelakaan menimpa sang istri dan si sulung, telah sampai dengan selamat di kota. Radha, anak kedua Darmin, beberapa pekan lalu mengatakan hendak merantau. Tujuannya sama seperti beberapa orang pemuda di kampung kami yang terlebih dahulu melakukan hal serupa, mencari peruntungan demi kehidupan yang lebih baik. Aku menepuk pundak Darmin, melempar senyum yang ia sudah tahu artinya.
Complete Solitude (Travel Journal in Surumanis Beach)
(first published in https://thecoffeelicious.com/complete-solitude-93532d93adf2 at the date Feb 23, 2016)
By the time you climb down the cliff, you’ll hear a song you’ve never heard. But you know, that song is already your favorite. It’s sung by the wind, and the waves play instrument together with whispering sands when they’re getting in touch with the water.
How much price are you willing to pay to let your life go on?
(my first article published on medium.com. The date was Feb 10, 2016)
How can you possibly let go of the past? How much effort do you give? How much price are you willing to pay?
It was a cold January when I first realized that everything that I had could be gone in just seconds. A father that I loved the most, a caring family man, my greatest hero in the world (just can be compared with Batman, maybe), had passed away. I remembered having a conversation with him by phone just a day before, talking about my graduation ceremony in the next month.
Selasa, 10 Juli 2018
Pohon Kopi Solusi Pemanfaatan Lahan Hutan Bernilai Ekonomi
(artikel untuk majalah Investasi, terbitan BPMPT Kebumen bulan Juni/Juli 2018)
Tren minum kopi tengah merambah Kebumen. Kafe dan kedai kopi
bermunculan. Penikmat kopi instan mulai berkenalan dengan biji kopi asli yang
disangrai. Tapi kopi lokal Kebumen sendiri belum banyak dikenal. Bahkan banyak
yang belum tahu bahwa kopi bisa tumbuh di Kebumen yang merupakan daerah
pesisir. Padahal di sejumlah daerah di Kabupaten Kebumen terdapat kebun kopi
yang dikelola petani lokal.
Sebab Pulang adalah Sebuah Keberanian
Menulis tentang hal ini sejujurnya adalah salah satu cara untuk meyakinkan diri terhadap sebuah keputusan yang saya sendiri bisa veto kapan saja. Bisa dibilang jika tulisan ini adalah bentuk pembenaran atas segala yang mungkin akan saya lakukan di masa depan, segala keputusan yang akan saya ambil. Maka mohon maaf jika ada yang menemukan tulisan ini sebagai tulisan yang angkuh, menggurui, dan barangkali juga berpandangan sempit. Umat beragama yang taat meyakinkan diri mereka bahwa agama yang mereka anut adalah paling benar agar tidak mudah goyah dan akhirnya berpindah atau tidak beragama samasekali. Demikian juga saat ini saya memposisikan tulisan ini layaknya pembenaran diri sebagai yang paling tepat, agar nantinya saya tidak lagi goyah atas segala yang telah saya putuskan.
Rabu, 30 Mei 2018
Cerpen: Ingatan
Ada wangi melati di kamarku. Samar-samar terdengar juga
suara musik klasik. Bach-kah? Rachmaninov atau Schubert aku tak tahu. Cuma tahu
Beethoven dan Mozart. Ayah memutarnya di ruang makan. Sebenarnya ayah fans
berat Iwan Fals. Jadi kenapa tidak memutar Iwan Fals saja?
Selasa, 22 Mei 2018
Kamboja - Refleksi Perjalanan 2
Di Kamboja saya mengunjungi dua kampung yang letaknya sekitar 7-8 jam naik bus dari Phnom Penh. Mohon jangan tanya nama desanya, karena sangat susah diucapkan, apalagi ditulis mengingat hurufnya keriting-keriting. Kedua desa terletak di Distrik Memot, Provinsi Tboung Khmum, hasil pemisahan dari Provinsi Kampong Cham oleh pemerintah tahun 2013 akibat gejolak politik. Di sebelah timur, Distrik Memot berbatasan langsung dengan Vietnam.
Kamboja - Refleksi Perjalanan 1
Di suatu desa kecil di Kampong Tboung Khmum, Kamboja, kelompok muslim yang minoritas membentuk rumah-rumah panggung kecil di sekitar satu2nya masjid di seluruh desa. Masjid tak hanya jadi tempat ibadah, melainkan tempat berkumpul komunitas dalam berbagai kegiatan.
Kamis, 22 Februari 2018
Being Twenty-Something in 21st Century is Stressing. Really?
You may want to study abroad, but with the grades of yours, you don’t know which university would accept you. You see your friends do a lot of voluntary activities, like taking part in gender equality campaign, looking for donation for Green Peace activities, joining movement for peace in Middle East, or feeding the poor. Some other friends are even building startups. Seems cool, working on their laptop all the time, hanging out in cafes, talking about tech or some languages you don’t understand. You hear they got a huge investment. All of them are cool, but you can’t decide which one really suits you.
Padi Gabug Menantang Langit
Semakin padi berisi, semakin ia merunduk. Yang tak berisi alias padi gabug akan tak tahu malu menatap tegak ke atas, menantang langit. Barangkali jadi gabug pun mengerti, itulah satu-satunya cara ia terlihat tinggi.
Langganan:
Postingan (Atom)
Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea
Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...
-
Once, a girl and a boy met up under a tree near a river. It would be more romantic to story-telling if the tree was a willow or cherry. B...
-
(repost, ditulis Mei 2012) Kami hanya batu sandungan Tersempil di antara raksasa-raksasa peradaban Buatmu, tentu merusak pema...


