Jumat, 29 Juli 2016

Perihal Mereka yang Ditinggalkan

Sebenarnya aku sudah berhenti untuk sok memberi komentar soal sesuatu yang sedang jadi tren pembicaraan di TV. Rasanya mainstream sekali, soalnya. Pun tak pernah ada habisnya jika serius dibahas. Kalau tidak serius membahas, kan namanya omong kosong, hanya bicara saja tidak mampu mengubah apa-apa. Kupikir begitu, tapi aku tidak bisa menahan diri soal yang satu ini.

Senin, 06 Juni 2016

Mabit 05062016

Ini pertama kalinya saya menghadiri kajian pra nikah yang tidak menganjurkan para pesertanya untuk “menyegerakan”.

Tidak Wajib

Sejauh yang saya pahami dan yakini, tidak ada ayat Al-Quran yang mewajibkan seseorang untuk menikah.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nuur: 32)

Jumat, 20 Mei 2016

Gang Dieng RW 2 Desa Wero (Part 1: Lahirnya Legenda)

Kuberi tahu kau, aku adalah legenda hidup. Kisah kehidupanku sudah terkenal di wilayah RW sini. Anak-anak sudah diperingatkan orang tua mereka agar tak mengusikku, apalagi ketika aku sedang berjemur. Siapa pun wajib menyingkir membuka jalan saat aku mau lewat. Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya. Aku bisa membuatnya mengalami trauma berkepanjangan.

Seorang perempuan yang biasa dipanggil warga sekitar "Umi" memisahkanku dari orang tua dan saudara-saudaraku yang lain di RT sebelah. Aku masih berusia 2 bulan. Umi membawaku ke rumahnya dan melatihku mengusir tikus di warung dan dapurnya. Aku melakukannya dengan terpaksa selama berbulan-bulan sampai aku jengah. Tikus-tikus itu terlalu bodoh dan lamban. Pemburu sejati tak puas dengan mangsa yang mudah ditangkap.

Jumat, 13 Mei 2016

Amin

Aku selalu waspada dalam berdoa.
Kadang juga iseng. Menutup dengan amin beberapa harapan yang saat itu kupikir tidak mungkin. Anggap saja aku mengujinya: apakah ia benar-benar mampu menjadikanmu nyata?

Sabtu, 23 April 2016

The Way He Loves Me

Langit malam Kota Yogyakarta menjadi pemandangan tanpa batas. Aku tidak peduli pada suara tokek yang terkadang berisik atau pada suara jangkrik dan teman-teman komunitas sawahnya. Sekali ini aku juga tidak peduli pada cerita horor yang pernah kudengar dari teman-teman atau yang belakangan sempat sedikit kubaca di internet. Lampu depan sudah kunyalakan sebelum naik ke lantai tiga pondok kayu ini dan membuka jendelanya lebar-lebar. Di malam yang cerah tak berawan ini, aku ingin berduaan saja.

Lelaki yang Mampir Minum Kopi

Lelaki bilang mereka masing-masing berbeda dari yang lainnya. Mendekat atas nama persahabatan, lalu memberi nyaman. Saat nyaman sudah tertanam dalam diri perempuan, mereka pun pergi.
Juga atas nama persahabatan.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...