Kamis, 18 Januari 2018

Selangkah PadaMu, Seribu Langkah Padaku

Beberapa waktu lalu aku bersua dengan teman-teman satu lingkaran dalam kelompok religius (sebut saja halaqah). Saat itu setelah lama tidak saling kontak, aku merasakan sekali ada gap/jarak dalam ilmu agama kami, yang berakibat pada perbedaan sudut pandang dan pendekatan dalam memahami dan melaksanakan syiar. Obrolan kemudian menjadi tidak seimbang ketika persoalan akidah mulai dipertanyakan.

Jumat, 29 Desember 2017

Kebumen Mengopi, Ngopeni Kopi Kebumen

Tren minum kopi tengah merambah Kebumen. Kafe dan kedai kopi bermunculan. Penikmat kopi
instan mulai berkenalan dengan biji kopi asli yang disangrai (roasting) dan dibuat dengan mesin
espresso. Tapi kopi lokal Kebumen sendiri belum terdengar gaungnya. Bahkan banyak yang belum
tahu bahwa kopi bisa tumbuh di Kebumen yang merupakan daerah pesisir. Padahal di sejumlah
daerah di Kabupaten Kebumen terdapat kebun kopi yang dikelola petani lokal. Bagaimana caranya
membuat tren minum kopi di Kebumen bisa mendatangkan keuntungan bagi petani kopi lokal?

Selasa, 19 Desember 2017

Berkenalan dengan Yahudi Melalui The Seven Good Years

The Seven Good Years adalah sebuah memoar kehidupan penulis yang tinggal di Tel Aviv, Israel, bersama keluarganya. Betul, penulisnya adalah seorang Yahudi tulen yang memang lahir di Israel, yaitu Etgar Keret. Bersama ayah, istri, dan anak laki-lakinya ia tinggal di sebuah apartemen di jantung kota Tel Aviv dan bekerja sebagai dosen tamu untuk sejumlah universitas dalam negeri. Ia sering bepergian ke Eropa dan Amerika sebagai penulis yang diundang ke berbagai acara literasi dan ajang penghargaan.

Senin, 13 November 2017

Sengaja Pulang Malam

Mi, aku pulang lebih malam nanti. Ada keperluan yang didesak dahaga rayu setan. Barangkali sesampai rumah nanti bisa kuceritakan padamu. Perihal gelandangan-gelandangan kriwil berbaju kelabu. Mereka jadi penguasa di jalanan sepi trotoar pertokoan. Malam adalah damai. Malam adalah selimut perlindungan bagi siapa yang tak punya apa-apa.

Cerpen: Mendengarkan Epik High



Mendengarkan Epik High di daftar putar. Jangan tanya arti liriknya. Menikmati musik tidak memiliki pemahaman atas lirik sebagai prasyaratnya. Biasanya aku mendengar Epik High ketika di perjalanan dan sendirian. Terutama salah satu lagu di album terbarunya yang judulnya Home is Far Away. Sambil menatap ke luar jendela jika kebetulan aku duduk tepat di sampingnya. Dengan tempo lagu yang tidak terlalu cepat, menyamakan tempo dengan suara mesin kendaraan dan pemandangan luar jendela yang seolah ikut melesat. Seharusnya daftar putar lagu di kendaraan diisi album Epik High atau musik-musik indie bertempo medium, bukan dangdut koplo yang membikin kepala pening. Sebab perjalanan haruslah dihadapi dalam damai dan tenang.

Kamis, 14 September 2017

Rohingya: Persoalan Etnis atau Agama?

Krisis rasial yang dialami etnis Rohingya berawal dari pencabutan identitas kewarganegaraan mereka oleh pemerintah Myanmar pada 1982. Setelahnya selama tiga dekade etnis Rohingya selalu menjadi objek marginalisasi, khususnya oleh junta militer yang berkuasa. Hak-hak mereka tidak diakui karena dianggap bukan penduduk asli, walaupun mereka telah mendiami Rakhine cukup lama.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...