Mi, aku pulang lebih malam nanti. Ada keperluan yang didesak dahaga rayu setan.
Barangkali sesampai rumah nanti bisa kuceritakan padamu.
Perihal gelandangan-gelandangan kriwil berbaju kelabu. Mereka jadi penguasa di jalanan sepi trotoar pertokoan.
Malam adalah damai.
Malam adalah selimut perlindungan bagi siapa yang tak punya apa-apa.
Kita, Mi, memang sebaiknya tak usah keluar malam-malam.
Banyak yang kita takut direbut. Cincin kalung wajah cantik kulit lembut. Harga diri yang kalut. Cinta yang tidak bersambut. Malam jadi musuh kita yang merasa berharga.
Tapi aku mau pulang larut malam nanti, Mi. Aku ingin mencoba bersalaman dengan gelap dan sepi. Sebab siapa lagi, yang bisa mengerti?
Selain yang sama-sama merasa bahwa di dalam diri sudah ada yang dicuri.
Gombong, 25 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar