Kamis, 14 September 2017

Rohingya: Persoalan Etnis atau Agama?

Krisis rasial yang dialami etnis Rohingya berawal dari pencabutan identitas kewarganegaraan mereka oleh pemerintah Myanmar pada 1982. Setelahnya selama tiga dekade etnis Rohingya selalu menjadi objek marginalisasi, khususnya oleh junta militer yang berkuasa. Hak-hak mereka tidak diakui karena dianggap bukan penduduk asli, walaupun mereka telah mendiami Rakhine cukup lama.

Senin, 17 April 2017

Sukses Terbesar dalam Hidupku

(dibuat sebagai persyaratan pengajuan beasiswa Master LPDP 2017)

Sejak kecil bisa dibilang saya menjalani hidup dengan sangat my way. Maksudnya, saya memilih apa yang akan saya lakukan tanpa banyak intervensi dari orang lain, termasuk orangtua. Saya memilih sendiri sekolah mana yang akan saya masuki sejak SD hingga kuliah. Melihat kondisi ekonomi keluarga yang bisa dibilang pas-pasan ketika itu, selalu memilih sekolah favorit yang biayanya lebih tinggi dari sekolah rata-rata adalah keputusan berani, kalau tidak mau dibilang tidak tahu diri. Tetapi itulah yang saya lakukan. Orangtua hanya menuntut satu hal, yaitu saya bertanggung jawab atas pilihan saya. Sejauh ini saya kira saya berhasil membuktikan bahwa pilihan-pilihan tersebut bukanlah pilihan yang salah.

Sosialisasi Penyikapan Isu Timur Tengah Melalui Kajian yang Down-to-Earth Sebagai Tindakan Preventif Radikalisme

(dibuat dalam rangka persyaratan pendaftaran beasiswa Master LPDP 2017)

Bagaimana cara menjelaskan kepada masyarakat yang awam bahwa terdapat kekuatan-kekuatan besar di tingkat global yang menggerakkan aktor-aktor yang saat ini terlibat dalam konflik di kawasan Timur Tengah? Tampaknya terlalu sulit untuk membahasakannya ke dalam kalimat-kalimat sederhana tanpa berujung pada pembahasan tentang konspirasi global, yang entah bisa kita percaya atau tidak. Akhirnya penjelasan sederhana yang dipilih untuk meringkas kisah konflik adalah dengan menggunakan identitas terkuat yang melekat di pihak-pihak yang terlibat. 

Kamis, 13 April 2017

Memang Seperti Itulah Cinta

Memang seperti itulah dakwah. 

Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah menyedot saripati energimu, sampai tulang belulangmu, sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari. 

Jumat, 24 Maret 2017

Sahabatku yang Satu Itu

Janji persahabatan itu tak lama. Usai lulus SMA, sahabat yang kemana-mana bersama akan sibuk dengan urusan-urusannya. Frekuensi bicara berkurang bahkan hilang. Kedekatan hati sampai pada titik minimal. Definisi pun berubah dari forever friends jadi sekedar teman SMA.

Makanya, aku sangat senang waktu HPku bergetar karena ada WA darimu. Mentionku di Twitter sebelumnya ternyata membukakan jalan untuk silaturahim kita. Dari 'apa kabar' hingga cerita nostalgia dan di percakapan-percakapan berikutnya kita mengidentifikasi satu sama lain: kamu masih jomblo tapi sok playboy, keranjingan ngomongin politik dan ideologi, lagi pingin cepat kaya, dan butuh teman untuk jadi tempat sampah.

Jumat, 10 Maret 2017

Go Public!

Beberapa teman yang saya kasih limited access ke blog ini kadang suka tanya, "Nis, kenapa blognya nggak go public aja?"

Aduh sist, aku ndak sehumoris admin Twitter TNI_AU yang berani jawab macem-macem pertanyaan dengan kocak. Aku juga ndak secerdas penulis-penulis di mojok.co yang tulisannya menggelitik berdasar atas data, fakta, dan logika. Aku juga udah lupa tuh sekitar tiga atau empat prinsip jurnalisme yang kudu diterapkan tiap kali nulis berita layak baca. Simpelnya aku cuma remah-remah alam semesta yang nggak punya temen curhat jadi bikin blog sebagai pelariannya.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...