Sabtu, 20 Oktober 2012

Pada Reformasi, Episode 1


Pada Reformasi, Episode 1
Oleh Annisa Qur’ani

Ref, gue disorientasi. Gue udah memajang diri di depan laptop sejak hampir dua jam yang lalu, tapi nggak mengasilkan apa-apa. Tangan gue selalu otomatis memasang modem dan mengetik situs “F” atau “T” di tab browser gue. Ngegosipin banyak hal nggak jelas sama teman-teman yang online, buat status-status nggak jelas. Dan parahnya, gue mikir, Ref! Gue mikir berat waktu mau buat status itu! Padahal gue aja nggak mikir belajar buat UTS besok.
Sori, Ref. Lo pasti kaget karena gue tiba-tiba ngomong kaya begini. Lo lagi belajar buat UTS besok Senin Ref? Sori banget, gue cuma mau ganggu dikit aja kok. Lo bacanya scanning aja, yang penting dibaca. Komentar urusan belakangan.
Awalnya Ref, gue duduk di depan layar laptop gue buat nerusin esai yang mau gue ikutin ke lomba esai nasional. Beh, keren abis. Temanya pengabdian masyarakat, Ref. Ada pilihan tema lain sih, yaitu mahasiswa menghadapi realita pragmatisme. Yang terakhir itu gue nggak ngerti. Bahasanya langit banget. Lo tahu sendiri otak gue nggak nyampe buat mikir hal berat kaya begitu. Barangkali lo yang lebih cocok. Atau jangan-jangan lo udah bikin esainya dan udah dikirim? Kalau iya, sialan lo Ref, nusuk gue dari belakang. Haha. Sori, bercanda Ref. Intinya, gue mau ikut lomba esai itu. Dan sekarang gue tertumbuk dengan satu problem klise: otak gue macet (Please jangan nyuruh gue nyiram otak pake minyak jelantah).
Kenapa gue akhirnya memutuskan cerita hal nggak penting ini ke elo? Karena gue berharap dengan otak encer lo, lo bisa bantu gue.
Jadi begini. Konsep awal gue adalah tindakan konkrit mahasiswa dalam pengabdian masyarakat. Caranya dengan menggalakkan yang namanya paguyuban mahasiswa asal daerah. Latar belakangnya, yah, lo tahu sendiri daerah itu minim sumber daya manusia yang unggul. Maksud gue, putra-putra daerah yang pinter-pinter, sukses, dan punya pemikiran-pemikiran cerdas pada akhirnya jarang kembali ke kampung mereka, ke daerah. Mereka ya kerja di ibukota, di perusahaan-perusahaan besar di kota-kota, bahkan luar negeri. Kalau semua begitu, daerah bakal dapat apa?
Alibi yang sering digaungkan oleh orang-orang ini biasanya terkait kesempatan kerja yang jarang muncul, keterbatasan buat bisa berkembang di daerah, di daerah sudah ada yang mengurus, kerja di luar tapi berkontribusi untuk daerah (yang ini mendingan), dan sebagainya. Oke, di sini gue dalam posisi nuduh. Gue nggak punya bukti statistik mengenai jumlah orang-orang macam itu. Gini aja deh. Lo tanya sama diri sendiri. Mau nggak lo balik ke daerah dan membangun tanah kelahiran lo? Tiga detik. Kalo lo langsung jawab iya, gue nggak perlu nerusin esai ini. Alhamdulillah banget kalo gitu, berarti setidaknya sebagian putra daerah masih peduli dengan daerah asal mereka. Ini memang terlalu menggeneralisasi, Ref. Sekali lagi, karena gue nggak punya bukti konkritnya. Makanya lo bantu gue, biar esai ini nggak jadi fitnah.
Ref, gue miris melihat temen-temen gue di kampus, khususnya yang dari daerah, berubah menjadi egois. Lagi-lagi ini penilaian subyektif gue, mereka seakan lupa sama asalnya. Kacang lupa kulit? Boleh juga pepatah itu. Gue tahu, nggak semua mahasiswa atau putra daerah itu berangkat dengan tujuan memajukan daerahnya. Ada yang memang murni belajar buat cari kerja besoknya setelah lulus, ada yang cuma karena prestise, ada juga yang alasannya macem-macem. Apa itu salah? Menurut gue nggak. Tenang, begini-begini gue masih menghargai pendapat dan kecenderungan individu. Maksud gue di sini adalah, ayo dong, kita ajak mereka untuk sesampainya di sini, mereka masih menyisakan sekotak pikiran mereka untuk memberikan sesuatu bagi daerah asal. Karena lo tahu juga Ref, Indonesia ini terlalu luas. Terlalu luas untuk bisa diurus semuanya oleh pemerintah pusat. Bahkan daerah yang udah diberi hak otonom nyatanya masih belum mampu mengolahnya dengan maksimal. Apa solusinya? Ya dengan kita membantu pemerintah daerah untuk mengelolanya.
Menurut gue lagi nih, Ref, kita mahasiswa seharusnya punya kapasitas lebih. Apa yang telah kita dapatkan di kampus? Nggak cuma ilmu di kelas-kelas perkuliahan kan? Kita dapet kenalan banyak orang, link, pengalaman, wawasan, dan revolusi pola pikir yang jelas berbeda dengan temen-temen kita yang nggak sempat mencicipi bangku kuliah. Seberapa banyakkah mereka? Banyak buanget. Bukannya gue lebay, tapi kerena memang banyak sekali temen-temen kita yang kurang beruntung dalam hal pendidikan tinggi. Kita jadi mahasiswa toh asalnya juga dari mengalahkan mereka semua. Seleksi alam, kata Darwin. Tapi nggak cuma alam yang menyeleksi, banyak faktor. Dan hasilnya kita-kita ini sekarang. Jadi kita punya kewajiban buat berbuat lebih.
Gue, Ref. waktu gue diterima di universitas, tetangga sekampung datang ke rumah ngasih selamat ke orang tua gue. Mereka menyampaikan harapan-harapan mereka ke gue. “Yang pinter ya, biar besok bisa bantu Ratna—anaknya—buat nyari kerja”, “Sukses di rantau, pulang membahagiakan orang tua dan bantu-bantu ngurus kampung”, “Sehat-sehat di sana, kuliah yang baik, biar negara ini bangga”, “Kami berharap besar sama kamu…” gue inget satu-persatu pesan mereka waktu itu. Bukan karena mereka ngomong itu sambil ngasih uang saku ke gue Ref, tapi sumpah gue beneran terharu sekaligus nyeri dengernya. Gue baru mau berangkat, dan udah disuruh bawa beban seberat itu!
Ada satu quote yang bikin gue merinding. Seorang putra daerah yang menuntut ilmu, dia membawa serta seluruh harapan tetangganya di kampung. Semua, di pundaknya. Serem kan, Ref? Apa itu hanya untuk anak asal daerah? Gue yakin nggak. Cuma waktu si pembicara ngomong itu, konteksnya sedang ada di pertemuan paguyuban nusantara. Sebenarnya nggak cuma putra daerah, tapi semua mahasiswa, semua pemuda harapan bangsa. Lo tahu Ref? Ketika gue tanya ke beberapa temen tentang persoalan daerah ini, beberapa bilang nggak ingin kembali ke daerah. Kenapa? Karena mereka merasa nggak ada manfaatnya. Pemerintah daerah pun nggak membutuhkan mereka. Buktinya, susah payah mereka masuk perguruan tinggi, apa apresiasi dari pemda? Apa bentuk dukungan dari pemda terhadap mereka yang berhasil? Nggak ada, ref. sekedar ucapan selamat formal pun nggak ada! Sibuk mungkin, kalau gue berusaha berkhusnuzon. Gue pikir, mereka nggak salah mengira demikian. Orang yang sejak awal berjuang sendiri, darimana mereka akan punya niat untuk minimal membalas budi?
Karena itulah pada akhirnya gue mengangkat fokus esai gue ke paguyuban mahasiswa. Gue rasa, bentuk yang paling konkrit sebagai wadah control dan pemersatu mahasiswa, khusunya putra daerah. Bukan masalah nantinya akan menimbulkan perpecahan dan primordialisme terhadap daerah asal seperti yang salah satu dosen gue bilang di kelas minggu lalu, tapi gimana caranya paguyuban itu bisa jadi tempat koordinasi mahasiswa asal daerah untuk memberikan sumbangan bagi daerahnya. Contohnya, Ref, ada beberapa paguyuban yang gue nilai bagus dalam hal kaderisasi dan ikatan alumninya. Yah nggak perlu gue sebut nama paguyubannya (lo bisa liat esai gue besok kalau udah jadi tentang paguyuban ini). Intinya, mereka, anggota paguyuban ini memberikan advokasi menyeluruh terhadap siswa-siswa SMA yang meneruskan ke perguruan tinggi. Mulai dari bantuan belajar, bantuan pendaftaran, pinjaman finansial, dan bantuan mengurus administrasi awal kampus. Hasilnya? Sembilan puluh persen dari mahasiswa yang diadvokasi memiliki ikatan kuat terhadap daerahnya. Ada rasa ingin memberi untuk daerahnya, minimal membalas budi dengan mengadvokasi adik-adik mereka kelak, seperti yang sudah mereka dapatkan sebelumnya.
Sebenarnya bentuk kontribusi mahasiswa yang bisa dilakukan melalui paguyuban tidak hanya itu. Melalui paguyuban, kita bisa menghimpun orang-orang sukses yang berasal dari daerah. Kita menyediakan sarana bagi mereka untuk ikut berkontribusi buat tanah kelahiran. Wujudnya? Donatur bisa, sumbang pemikiran bisa, dan pembentukan jaringan warga asal daerah. Itu yang terpenting. Bisa jadi kan, Ref? Barangkali mereka ingin berkontribusi untuk daerah, tapi tidak tahu lewat mana. Apalagi jika mereka sudah tidak percaya pada pemerintah daerah. Paguyuban mahasiswa bisa jadi sarana yang efektif. Yah, pakailah stereotip mahasiswa yang terkenal masih idealis. Gimana, ref? Nggak terlalu maksa kan konsep esai gue? Gue yakin banget, apa yang udah gue sebutkan cuma manfaat kecilnya aja. Otak gue kan kecil juga, jadi ya mikirnya gitu-gitu aja. Makin banyak otak yang ikutan mikir, makin cihuy manfaat yang bisa kita temukan.
Lebih jauh lagi, Ref, kalau pemda peduli, pemda bisa memanfaatkan adanya paguyuban ini. Misalnya dengan membentuk kerja sama dalam hal advokasi siswa-siswa SMA yang mau meneruskan ke perguruan tinggi, menyediakan tempat untuk paguyuban bisa bergerak bebas menjalankan program-program pengabdian masyarakatnya di daerah, dan menjaring mahasiswa-mahasiswa potensial sebagai penerus yang kelak bisa ditempatkan di posisi-posisi strategis dalam pemerintahan. Bagi pemda, seharusnya keberadaan paguyuban ini menjadi solusi jangka panjang dalam menyelesaikan masalah pengelolaan sumber daya manusia. Paguyuban baiknya digalakkan di semua daerah, dirawat, dikontrol, dan didukung agar keberadaannya bisa memberi manfaat maksimal bagi pertumbuhan daerah. Yah, hitung-hitung membantu pemerintah pusat dan daerah khususnya dalam masalah pendidikan warganya.
Begitu, Ref. Sekarang yang menghambat esai gue adalah, gue sulit mengimpun data. Yah itu bisa diusahakan lah. Cincai. Masalah yang lebih berat adalah, apakah gue dan teman-teman yang sepakat sama gue siap menjadi motor penggeraknya? Mengubah paradigma mahasiswa itu sulit, Ref. Lo tahu sendiri lah, pengalaman lo banyak. Kebanyakan mahasiswa sekarang cita-citanya tinggi banget, beberapa malah gue anggap utopis dan nggak sadar diri. Beberapa hanya membayangkan yang besar-besar, hebat-hebat, tapi lupa atau malah menutup mata sama problem yang ada di hadapan. Haha. Gue fitnah lagi ya Ref? Yah, inilah gue, terlalu subyektif. Karenanya gue butuh elo sebagai penyeimbang. Bantu gue ya, Ref, untuk memulai langkah ini. Semoga gue tetap bisa istiqamah dengan pemikiran gue sekarang. Gue nggak sendiri, gue yakin itu. Makanya, dengan ini, dengan esai gue, gue ingin mengajak sebanyak-banyaknya mahasiswa yang sepaham untuk bergerak bareng mewujudkannya. Biar nggak cuma omong doang, biar nggak cuma ngatung di awang-awang.
Doakan gue, Ref, gue mau nulis lagi. Bismillah…

Jumat, 21 September 2012

Untuk Indonesia, Kita Bercita-Cita


Untuk Indonesia, Kita Bercita-Cita
Oleh Annisa Haq Nur Qur’ani, Beastudi Etos Jakarta 2011

Anak-anak usia sekolah dasar memiliki jawaban rata-rata jika mereka ditanya mengenai cita-cita. Sejumlah profesi yang umum disebutkan biasanya dokter, polisi, astronot, guru, dan pemain bola. Profesi-profesi itu merupakan profesi-profesi yang biasa mereka lihat, baca di buku-buku pegangan sekolah, atau dengar dari orang lain. Jarang ditemukan anak yang memiliki cita-cita berbeda. Cita-cita mulai berubah ketika mereka beranjak dewasa dan melihat lebih banyak hal di sekitar mereka. Mereka menyadari bahwa cita-cita tidak terbatas pada apa yang mereka telah sebutkan di masa kanak-kanak mereka. Selain itu, perubahan cita-cita juga disebabkan adanya masukan-masukan dari eksternal berupa larangan, sugesti, dan dorongan sehingga mereka memiliki perspektif yang lain dan pemahaman mereka berkembang tentang apa yang mereka cita-citakan sebelumnya. Namun saya tidak ingin menggeneralisasi semuanya, mengingat selalu ada yang bisa mempertahankan cita-cita masa kecilnya dan berhasil mewujudkannya.
Memiliki cita-cita seperti yang kita disebutkan di masa kanak-kanak bukanlah suatu hal yang salah. Itulah tanda bahwa anak-anak hanyalah anak-anak, yang wawasannya masih terbatas pada lingkungan tempatnya hidup. Itulah awal munculnya keinginan kita terhadap sesuatu yang ada di luar diri kita dan kita menjadi terpacu semangatnya. Keinginan atau cita-cita adalah bentuk motivasi yang menggerakkan setiap manusia untuk berbuat, mengubah, meraih, atau mempertahankan sesuatu.
Bicara mengenai cita-cita berkaitan erat dengan keinginan kita untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu. Cita-cita tidak bisa didefinisikan hanya yang bentuknya profesi atau pekerjaan. Dalam skala terkecil, harapan kita akan sesuatu bisa juga disebut cita-cita. Apa yang ingin kita lakukan dan dapatkan berhak dimiliki oleh semua orang, tanpa batas usia dan golongan. Dan sama halnya harta, cita-cita dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain, seperti para pendiri negara ini yang cita-citanya terus tumbuh dalam benak penerus-penerusnya.
Awal negara ini berdiri para pendirinya memiliki cita-cita besar yang terangkum dalam falsafah-falsafah negara. Falsafah-falsafah itu mengakar menjadi pondasi setiap tata aturan dan pembangunan yang berlangsung di atas tanah pertiwi, kemudian menjadi kebiasaan yang bersifat tradisionil. Cita-cita besar itu mengalir dalam setiap jiwa anak bangsa, terlihat maupun tidak, terwujud maupun tidak. Tapi kita tahu bahwa setiap orang di negara ini menginginkan kemakmuran seperti halnya yang diinginkan generasi pendahulu. Kader-kader bangsa terus dibina melalui pendidikan baik formal maupun informal, lisan dan tertulis, melalui perantara guru, media, dan obrolan-obrolan orang di warung kopi yang membahas isu terkini di suratkabar. Pada tataran inti, setiap orang Indonesia memiliki harapan yang sama atas negaranya.
Sebagai generasi muda, kita berkewajiban untuk menjadi wadah selanjutnya bagi aliran cita-cita yang terus mengalir deras dalam semangat orang-orang yang peduli terhadap kelanjutan pembangunan bangsa. Kita hendaknya juga menjadi pelurus ketika cita-cita itu mulai bergeser atau siap merubahnya ketika cita-cita itu telah salah sejak awal penerapannya. Cita-cita besar bangsa ini ibarat sebuah batang utama sebuah pohon (main stem) dan cita-cita orang-orang di dalamnya adalah ranting-ranting yang dedaunnya diwujudkan dengan semangat untuk meningkatkan kemampuan diri. Usia bukan batas ukuran besar kontribusi yang dapat diberikan oleh masing-masing orang. Setiap kapasitas memiliki peran sesuai besar kapabilitas yang dimiliki. Apapun bentuknya, bagaimanapun caranya berkontribusi, setiap ranting terhubung dan diberi suplai makanan oleh batang utama. Harapannya, hasil yang ranum tidak berbuah hanya di satu musim, tapi terus menerus dapat dipetik di semua musim.
Menjadi dokter, polisi, astronot, guru, dan pemain bola adalah bentuk kontribusi. Pengusaha, pejabat, programmer, seniman, petani, supir angkot, nelayan, penarik becak, dan semua pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan memiliki nilai-nilai kontribusi sendiri. Saya rasa tidak ada yang benar-benar tidak peduli pada nasib bangsa Indonesia, karena ukuran besar kontribusi selalu bergantung pada darimana subyek memandang. Karena itulah setiap orang adalah negarawan.
Indonesia tidaklah miskin cita-cita. Indonesia juga tidak miskin orang-orang yang peduli. Jika saat ini Indonesia tidak dalam keadaan yang baik, maka yang diperlukan adalah persatuan orang-orang yang memiliki harapan yang sama dan itu berarti seluruh rakyat Indonesia untuk tidak saling bertengkar sendiri, tidak saling menghakimi, dan tidak saling menyalahkan. Kedengarannya memang normatif dan sulit diwujudkan dalam tataran teknis, tapi saya rasa memang itulah yang diperlukan. Itulah cita-cita besar Indonesia di era pembangunan saat ini. Semangat yang dibawa haruslah terus menerus diregenerasi dan dipupuk dengan bayangan akan terwujudnya Indonesia yang ideal adanya, yang bernafaskan nilai-nilai moral dan agama Islam sebagai rujukan utama bagi setiap aturan dan hukum.
Seorang negarawan tidak hanya bergerak di dalam otaknya (prinsipil), tapi diturunkan dalam gerak anggota tubuh (teknis) yang memicu pergerakan lingkungan sekitarnya. Dan kita sebagai mahasiswa, sangat wajar jika kita menepati setiap poin yang terangkum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Itulah bentuk senyata-nyatanya kontribusi.

Jumat, 04 Mei 2012

Rumah-Rumah Para Nasionalis


Rumah-Rumah Para Nasionalis

Nasionalisme (nasionalism) dapat dikatakan sebagai suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan serta wilayah, cita-cita, dan tujuan. Menurut Boyd C. Shafer, nasionalisme mengacu pada kesatuan, keseragaman, keserasian, kemandirian, dan agresivitas. Pada intinya nasionalisme berarti rasa ikatan seseorang terhadap bangsanya.
Semakin bertambah umur bumi, definisi dari nasionalisme pun semakin berkembang sesuai dengan zamannya. Bisa jadi orang-orang generasi sebelumnya memahami nasionalisme secara berbeda dari pemahaman yang sekarang berkembang. Ketika dahulu pada masa kemerdekaan nasionalisme diartikan sebagai perjuangan melawan penjajah, kini mungkin nasionalisme lebih dekat pada keinginan untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi lebih maju. Pun berbeda ketika kita menanyakan arti nasionalisme kepada seorang petani penggarap. Mungkin ia akan menjawab bahwa nasionalisme adalah menjadikan produksi padinya mampu memenuhi kebutuhan beras penduduk Indonesia. Pelajar bisa lain lagi jawabannya. Pendidikan kewarganegaraan yang diajarkan sejak Sekolah Dasar mungkin akan membuatnya menjawab bahwa nasionalisme adalah berkorban jiwa dan raga untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang mampu bersaing dengan negeri-negeri lain di luar sana. Atau mari kita tanyakan pada pejabat-pejabat berdasi. Kemungkinan jawabannya akan berbeda lagi. Sekalipun demikian, semua pendapat mengenai nasionalisme selalu dikaitkan dengan satu hal, yaitu ikatan kebangsaan. Saya dan banyak orang lain di negeri Indonesia ini sadar maupun tidak terikat dengan satu konsepsi tentang tanah air dan apa saja kewajiban kami terhadapnya, sekalipun pemahaman yang berbeda tentang nasionalisme sebanyak manusia yang mencoba memahaminya. Faktor geografis, ekonomi, politik, dan sosial-budaya membentuk pola pikir nasionalis masing-masing orang.
Dalam memahami konsep tentang nasionalisme, saya membaginya menjadi tiga sikap sesuai dengan peran saya dalam kehidupan bernegara. Ketiga peran tersebut adalah peran sebagai seorang pelajar, sebagai rakyat, dan sebagai seorang muslim. Yang pertama sebagai seorang pelajar, tentu saja kewajibannya adalah belajar. Belajar dalam segala hal tanpa perlu dibatasi. Pembatasan adalah kewajiban akhlak dan nurani, yang membuat kita mampu menilai suatu ilmu apakah layak direalisasikan atau tidak. Indonesia tidak akan maju tanpa ilmu, semua orang tahu itu. Karenanya, nasionalisme sebagai seorang pelajar adalah bagaimana menyerap ilmu sebanyak mungkin dan mengolahnya menjadi kemampuan mengelola bangsa dan negara beserta segala permasalahannya. Bersikap bijak dan adil dimulai sejak dalam pikiran, mampu melihat lebih dalam dari yang terdalam, dan mengayomi segenap masyarakat dengan berbagai program penelitian serta diwujudkan dengan pengabdian. Nasionalisme dalam peran yang kedua, yaitu sebagai rakyat, adalah menjadi pendukung utama pemerintah atau pemimpin dalam menciptakan kebijakan bagi masyarakat. Melakukan fungsi kontrol sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara dan penjamin utama eksistensi suatu bangsa di hadapan dunia menurut saya adalah tugas pokok sebagai rakyat dalam kaitannya dengan nasionalisme. Dan yang terakhir dan terpenting adalah nasionalisme dalam peran saya sebagi seorang muslim untuk tidak membiarkan bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang tidak beradab dan jauh dari moral dan nilai-nilai agama. Nasionalisme sebagai seorang muslim tidak berarti harus menjadikan Indonesia sebagai negara Islam secara absolut, namun bagaimana seorang muslim mampu menanamkan nilai-nilai luhur ajaran Islam ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti layaknya nasionalisme Ummar bin Khattab, Ustman bin Affan, maupun ‘Ali bin Abi Thalib yang berjuang menjadikan Madinah sebagai negeri yang makmur dan terbuka bagi segala lapisan dan golongan masyarakat dan menjadikan pemerintahannya sebagai fondasi kejayaan Islam di masa-masa berikutnya. Ketika masa kejayaannya kekhalifahan Islam menjadi sumber ilmu dan pengajaran bagi masyarakat dunia. Tidak ada perbedaan perlakuan bagi mereka yang bermaksud menuntut ilmu sekalipun tidak beragama Islam. Akan tetapi dalam praktiknya nilai-nilai Islam diterapkan sebagai ideologi dan konstitusi dalam bernegara.
Menjadi nasionalis tidak berarti harus menghormat kepada merah putih, menjalani upacara bendera, dan memperingati setiap hari besar kenegaraan. Bentuk-bentuk semacam itu hanya sebagai simbol permukaan. Masing-masing orang punya caranya sendiri dalam mengungkapkan nasionaisme dalam diri mereka dan tidak bisa dipaksa untuk sama. Mewakili Indonesia dalam ajang pertandingan internasionalisme adalah cara menunjukkan nasionalisme bagi mereka yang memiliki kemampuan akademis maupun olah raga. Bagi seorang pejabat, dapat ditunjukkan melalui pembuatan dan pelaksanaan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Bagi saya, menghimpun banyak ilmu baik organisasi, akademik, dan berusaha mengembangkan diri merupakan wujud nasionalisme yang paling nyata.
Indonesia adalah tanah. Nasionalisme adalah fondasi. Wujud nyatanya adalah rumah. Fondasi nasionalisme semuanya dibangun berlandaskan tanah air Indonesia. Setiap bentuk fondasi akan menghasilkan rumah yang berbeda pula bentuk atau model arsitekturnya. Sekalipun demikian, setiap rumah akan tetap mengandung tanah yang sama, nilai-nilai luhur yang sama. Indonesia tercinta.

Annisa Haq Nur Qur'ani
FISIP/Ilmu Komunikasi
Peserta UI Student Development Program 2012

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...