Kamis, 24 Juli 2014

Kaum Tepi Jalan



(repost, ditulis Mei 2012)

Kami hanya batu sandungan
Tersempil di antara raksasa-raksasa peradaban
Buatmu, tentu merusak pemandangan

Tanyakan pada kami : tentang mimpi
Pastilah bagimu yang batang kokoh, kami sejumput akar serabut
Atau tentang hidup
Kami jauh lebih tahu banyak daripadamu
Terutama rasanya yang pahit

Lelah leher kami selalu mendongak
Pada judul-judul toko, pada baliho-baliho, pada istana-istana

Pada merah putih

Jangan tanyakan rasa atau sudut pandang
Kita berbeda dalam semua
Yang banyak tak selalu berkuasa
Yang sedikit justru istimewa, mengatur segala,
Bukankah itulah hukummu?

Definisimu tentang sejahtera, kemakmuran
Adalah berbeda sisi
Kami cukup makan nasi, anak sekolah, dapur mengepul
Tak perlu berlian, lantai marmer, istri pesolek

Jangan menoleh, jangan menatap kami dari ketinggian
Kami benci belas kasihan

Prosa Pendek (2)



14 September 2013 

Kecuali mencintaimu, aku tak punya alasan lain. Kau tempatku pulang, menyampirkan baju kerja dan menggantinya dengan kaos oblong. Kemudian bersama yang lain aku menuju halaman belakang, bermain layang-layang, terkadang cukup dengan gundu. Atau menerbangkan merpati-merpati.

Membersamaimu adalah konsekuensi, adalah risiko. Adalah sama dengan pohon yang mengikuti matahari kemanapun pergi. Siapa peduli nantinya matahari tiada lagi? Justru saat paling indah adalah sepersekian detik sebelum ia menghilang tenggelam. Sepersekian detik itulah hartaku. Karena langka dan perlu kesabaran untuk menunggu momen spesialmu itu, maka hanya sedikit yang mau, hanya sedikit yang tahu. Hanya sedikit yang bertahan untuk tahu.

Kita adalah ikatan yang tak disengaja. Kita bertemu di antara persimpangan saat kita sama-sama beranjak pergi. Dari pelukan bunda, dari gelapnya malam di desa-desa, dari kenyataan yang bayang-bayang. Kita adalah satu dalam sebuah kesepakatan yang tak pernah ditanyakan.

Sayang, genggamlah tanganku, niscaya kubawa kau pada tujuan. Niscaya kubisikkan padamu tempat kita menuju. Akan kubuatkan pagar, kususunkan batu tempat kakimu yang ramping berpijak. Mungkin sesekali kau akan jatuh, sesekali kau akan mengeluh. Aku sendiri tidak tahu nantinya kita akan berjalan seberapa jauh. Tapi janjiku, mengantarmu sampai ke titik terakhir dimana aku masih mampu. Kuatlah!

Kau abadi, tapi aku hanya penunjuk arah dalam perjalananmu yang panjang. Aku akan berhenti di ujung jalan yang kuketahui. Selanjutnya nanti tetaplah berjalan terus, makanlah bekal yang sengaja kubuat untukmu. Bekal hasil egoisme yang terus ingin mengikatmu dalam kenangan atasku.


Kita adalah sepasang. Cangkir dan tatakannya, jari manis dan cincin yang melingkarinya, gitar dan senarnya, burung dan kebebasannya terbang di langit. Aku tak bisa memberikan semuanya. Bisa jadi nanti aku akan membiarkanmu sendirian di beberapa petak jalan dan lebih suka bercengkerama dengan kupu-kupu yang menggoda jemariku. Bisa jadi aku bosan padamu.

Jika nantinya aku tak terlihat di lanskap pandanganmu, maka saat itulah giliranmu menyisakan sedikit rindu untukku. Memanggilku dengan panggilan sayang, tak mungkin aku tak menghampirimu. Lagi, lagi, dan lagi. Karena aku hanya anak kecil yang kian manja dengan pujian.

Karena selain mencintaimu, aku tak tahu alasan lain.

Aku batu dan kau sekotak pahat, atau sebaliknya.

Prosa Pendek (1)



23 Mei 2014 

Kita mengatakan cinta seolah kita mengerti tentangnya. Berbisik tentang kisah-kisah romantis bersama angin yang semilir lembut. Kisah-kisah yang juga tidak kita mengerti. Merambat di hujan yang dingin bersama mimpi indah yang perlahan membeku. Kita bicara tentang esok hari, yang belum tentu kita miliki. Kita bicara seolah kita menggenggamnya dalam kepalan dan mengakuinya sebagai kepastian yang benar-benar akan terjadi. 

Kita sebenarnya sudah cukup puas hanya dengan saling bertatap muka dan bertukar kerlingan. Sekedar menyadari bahwa satu sama lain saling memperhatikan, tanpa kata dan sentuhan yang membuat kita tidak bisa beranjak. Sembari waktu berjalan mengiringi setiap pertumbuhan kita, mimpi-mimpi terkoyak pelan-pelan. Terobek-robek sampai pada akhirnya kita berpisah dan saling melupakan. 

Kedewasaan selalu menuntut kesendirian dalam prosesnya.

Aku rindu. Lupa hanya menjadi kata yang terpendam di balik kesibukan dan rutinitas. Ketika kesendirian menyergap, aku mengingatmu dengan jelas. Ingatan itu tumbuh membesar menjadi rindu yang bertabuh bertalu-talu. Berdentum-dentum sampai tak bisa lagi disembunyikan dengan kesibukan yang nyaris membunuhku. Ketakutan menyergap ketika perlahan kisah-kisah itu memudar dalam kenangan. Aku semakin ingin bertemu.

Cinta dan kisah-kisah yang membuatnya indah akan terlupakan bersama waktu dan tertidur selamanya dalam diam.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...