Apa kau menyebutku jahat dengan memintamu mengenakan topeng
terbaikmu dalam pestaku? Aku mengundangmu dalam pesta yang kuadakan. Sekalipun
sejak awal telah kau tolak, tetap kuantarkan undangan pengharapan ke depan
pintu rumahmu. Berharap kita jumpa lagi.
Kukatakan padamu, berkorbanlah demi pestaku.
Aku paham kau
tak suka lampu-lampu gemerlap dan bising dalam ruang pesta bundar dengan alunan
musik salsa. Aku paham barangkali tak hanya kau yang merasa gerah dengan semua
gaun dan sepatu yang membuat orang-orang seolah terlihat lebih baik. Bisa jadi
semua tamuku tak menyukai pestaku, tapi bukan peduliku. Aku adakan pesta,
mereka kuminta datang, dan semua tamuku wajib bersenang-senang. Berpesta dengan
gayaku. Tak terkecuali kau. Kuingin kau berbahagia dalam pestaku. Jika nyatanya
kau tak senang, berpura-puralah sampai tengah malam datang dan kau bisa pulang.
Aku pernah berpura-pura menikmati pesta orang lain. Rasanya
sangat buruk ketika tamu-tamu lain mengharapkanmu menampilkan sesuatu yang lucu
untuk menghibur mereka. Kau tahu, aku bukan orang yang lucu. Tapi pesta itu
adalah pesta sahabat baikku yang selalu hadir kapanpun kupanggil namanya. Aku
hanya merasa tak ingin jadi orang yang menghancurkan pesta.
Saat aku hadir dalam pesta itu dan mengenakan gaun
terbaikku, aku berulang kali jatuh karena tak terbiasa memakai sepatu hak
tinggi. Seorang sahabat lain bertanya, “Apa kau yakin bisa terus mengenakan
gaun pesta setahun ke depan jika kau terpilih jadi bintang pesta malam ini?”
Sejenak aku hendak berkata “ya”, sebelum melihat ke dalam matanya. Dan aku tak
bisa berbohong. Matanya menemukan titik ragu-ragu jauh di dalam hatiku. Maka
saat itu juga kupeluk ia dan menangis di pundaknya. Ia mengelusku dan
mengatakan semua akan baik-baik saja. Lalu ia menuntunku menuju ruang pesta.
Aku berdansa sendirian bersama kandidat bintang pesta yang
lain. Sahabatku penyelenggara pesta puas dengan penampilanku yang hebat walau
agak terseok-seok. Sahabatku yang lain melihat dari jauh. Tenang sekali rasanya
melihatnya ada di sana. Akhirnya ia menyelamatkanku dari pemilihan bintang
pesta. Ia membuatku terhindar dari gaun yang sempit dan sepatu yang membuat
kaki sakit. Berkatnya, kini aku bebas berjalan-jalan pakai sandal atau sepatu
roda jika aku mau.
Kau yang berdiri mematung di halaman rumahku saat ini
terlihat seperti sosokku setahun lalu. Ragu melangkahkan kaki ke dalam karena
tak yakin apa yang diinginkan. Kau barangkali bisa memilih untuk tidak datang,
tapi tak bisa mengabaikan undangan yang kuantarkan padamu. Sementara kau
berpikir di luar, dari balik jendela aku bertanya-tanya, akankah kau hadir dan
merusak pestaku dengan berkata kau tidak menyukainya di hadapan semua orang?
Ataukah kau akan melangkah ke dalam, menyembunyikan raut kesalmu dengan topeng
indah dan gaun megah, berpura-pura menikmati hidangan dan musik sajianku?
Sebenarnya aku ingin menyelamatkanmu dari pestaku. Rasanya
ingin kubawa kau ke atap ruang pesta dan kau bisa melepaskan topeng,
meregangkan kaki, membuang kostum pesta konyol itu. Kita akan menertawakan
bersama pesta di bawah dan mengasihani orang-orang bertopeng yang menari
canggung di lantai dansa.
Sayangnya kau tak berkata apa-apa. Aku tak bisa membaca
keinginan hatimu. Apakah kau akhirnya bisa menikmati pestanya? Apakah kau hanya
sekedar datang sampai lonceng berbunyi dan pergi menghilang setelahnya? Apakah
kau akan membuat dirimu tampak konyol agar orang tahu betapa kau tak
menginginkan pesta ini, apalagi menjadi bintang di dalamnya? Kuharap bukan yang
ketiga. Membuat dirimu tampak konyol hanya akan mengundang tertawaan, cemoohan
yang menyakiti hatimu sendiri. Dan aku tak bisa membiarkanmu diperlakukan
demikian di pestaku. Lebih baik aku tak melihatnya.
Hei, tak bisakah kau serahkan semua padaku dengan mengatakan
apa yang kau inginkan? Jangan-jangan kau tak percaya padaku? Kau pikir aku
wanita yang begitu dingin?
Aku tak bisa membaca hatimu. Selama ini kita hanya
berpura-pura saling mengerti. Tapi sebenarnya seperti dugaanmu. Di pestaku aku
tak memikirkan perasaan setiap tamu yang datang. Aku mengundang mereka untuk
bahagia, maka mereka yang datang wajib berbahagia, tak terkecuali kau.
Kelancaran pestaku adalah segala-galanya. Akan kubenci kau jika sampai
menghancurkannya atau membuat tamu lain menyakitimu. Atau kalian semua
menyakitiku: tak akan kumaafkan. Kau tahu bagaimana caraku tak memaafkan.
Putuskanlah segera. Yang bisa kutawarkan padamu adalah untuk
memakai topeng terbaikmu dan berpura-pura menikmati pesta. Perihal keinginanmu
untuk tak menjadi bintang pesta, serahkan saja padaku.
Aku akan selalu bisa
diandalkan, kau tahu? Seperti biasanya.
18 September 2014