Minggu, 28 Februari 2016

Ali Fatimah



Aku bukannya tidak suka ketika sahabat terdekat ayah berkunjung ke rumah untuk meminang. Maksudku, siapa yang cukup kurang waras untuk menolak memiliki suami yang begitu dermawan dan punya hubungan dekat dengan keluarga kita? Hanya saja aku tak merasakan kesenangan yang kupikir akan kurasakan ketika malam itu ayah Aisyah datang. Akhirnya aku hanya berdiam di kamar, tanpa punya debar-debar khusus seperti yang mungkin para gadis umumnya rasakan. Saat pada akhirnya ayahku menolak ayah Aisyah dengan halus, rasa lega pun tidak terlalu kentara. Pun demikian yang kurasakan ketika kali berikutnya dua sahabat ayah yang lain datang ke rumah.

“Aku tidak mengerti apa yang ayahmu cari?” tanya Sofia, sahabatku di tempat kerja. “Maksudku, ya ampun, tiga orang paling keren di kota datang ke rumahmu. Direktur NGO, pejabat tinggi kota, dan CEO perusahaan! Pilih mana saja sudah menang banyak.”
Aku tertawa garing saja mendengarnya berceloteh. Kupikir ada benarnya juga kata-kata Sofia. Menang banyak, ya. Hmm.

Pukul empat aku dan Sofia mulai berkemas. Masih ada waktu satu jam sebelum waktunya pulang. Berhubung pekerjaan hari ini sudah selesai, kami memutuskan untuk mampir membeli kopi.

“Kamu sendiri, ingin yang seperti apa?” Sofia bertanya lagi.

“Hm?”

“Calon suami. Pasti ada bayangan kan?”

“Oh, hehe. Biasa saja. Siapapun yang disetujui ayahku boleh.”

“Meskipun kamu nggak mencintainya?”

Aku lagi-lagi hanya menimpalinya dengan tawa. Tapi sebetulnya aku cukup terganggu dengan obrolan itu. Kami akhirnya berpisah di lobi gedung, berhubung arah tempat tinggal kami berlawanan. Seperti biasa, aku lebih menyukai naik kereta daripada angkutan umum lainnya. Dan sesampainya di stasiun tujuan, langkahku terhenti di depan pintu masuk stasiun.

“Ngapain, Li?” tanyaku pada seorang pemuda kurus yang tengah memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di jalan depan stasiun. Ia menoleh.

“Oh, Fatimah.” Begitu saja. Ia kembali menatap orang-orang satu per satu.
“Aku tanya, kamu lagi ngapain?”

“Cari inspirasi,” jawabnya akhirnya, tanpa menoleh.
Ya ya, aku terbiasa dengan ini. Sebelum bertanya pun sebetulnya aku bisa memperkirakan jawabannya. Dengan agak meliriknya heran sekali lagi, aku berlalu pulang. Langkahku terasa ringan.

***

Minggu ini rencananya aku tak ingin kemana-mana. Istirahat di rumah dan seharian terbebas dari sinar matahari yang terik. Ayah belum pulang dari masjid sejak keluar Subuh tadi. Aku hanya berharap hari ini menjadi hari yang tenang.

Kemarin dulu, setelah mengisi kultum setelah Subuh di masjid, sejumlah orang menyerbunya untuk protes macam-macam. Aku tidak bisa melupakan wajah ayah hari itu. Dan hari-hari lain, sebetulnya, karena bukan hanya sekali-dua kali orang-orang berpikiran sempit itu menentang dan memaksa ayah keluar dari jajaran takmir. Mereka bilang ayahku ekstrimis, cikal-bakalnya teroris.

Aku ingat kejadian yang sudah lama. Di saat yang juga tenang seperti ini. Hari itu, saat hendak mencuci piring, aku mendengar pintu rumah diketuk dengan kasar dan suara perempuan memanggilku.

“Bu Aim?” ucapku setelah membuka pintu.

“Cepat! Orang-orang sedang kumpul di masjid. Ayahmu dikepung warga lagi! Sepertinya beliau mencoba menasihati warga soal Yasinan.”

Tanpa menutup pintu, aku langsung melesat ke arah masjid. Kakiku yang hanya berbalut kain menerjang kerikil di jalan setapak menuju masjid. Dari kejauhan aku melihat kerumunan. Aku menerobosnya. Saat sampai di depan barisan, aku menjumpai pemandangan yang membuatku harus menambahkan satu lagi daftar raut wajah ayah yang tidak akan bisa kulupakan.

Wajahnya berlumuran tepung dan cipratan telur mengotori pakaiannya. Kulihat Paman Umar sedang mengusir para pelakunya pergi. Melihat wajah Paman Umar yang mengeras menyeramkan, aku yakin ayah telah melarangnya berbuat kasar pada mereka. Di sisi lain ayah Aisyah sedang membantu membersihkan pakaian ayah. Aku berjalan mendekat.

Ayah tersenyum. “Maaf ya, lagi-lagi Fatimah akan punya pekerjaan tambahan mencuci pakaian kotor ayah.”

Tanganku gemetaran. Aku ingin bilang, “Cuci sendiri. Atau suruh mereka cucikan.”

Tapi yang keluar dari mulutku adalah, “Tidak perlu minta maaf. Masukkan saja ke bak pakaian kotor. Nanti akan Fatimah cuci. Dan akan Fatimah belikan yang baru, sebanyak yang ayah butuhkan, biar mereka tahu bahwa butuh lebih dari tepung dan telur untuk menghentikan ayah.”

Aku mengepalkan tanganku dan melangkah pergi. Cepat, cepat, atau aku tidak akan sempat menyembunyikan mataku yang panas dan berair. Tiba di pinggir sebuah kolam di bagian belakang masjid, aku berhenti dan berjongkok, menyembunyikan wajahku dalam dekapan lutut.
Kudengar suara langkah kaki di belakangku dan sesaat berikutnya seperti ada benda yang dijatuhkan di depanku. Perlahan aku mengangkat kepala dan kulihat sepasang sandal di tanah. Orang yang menjatuhkannya sepertinya ada di belakangku, tapi aku malu untuk berbalik meskipun penasaran siapa yang melakukannya.

“Tak perlu berbalik. Pakai saja sandalnya, kakimu bisa luka.”

Aku mengangguk pelan. Suaraku terlalu bergetar untuk mengucap terima kasih. Setelahnya langkah kaki terdengar menjauh. Aku memang tidak menoleh, tapi aku sudah tahu kepada siapa sandal itu nanti harus dikembalikan. Di sandal jepit biru itu diukir nama agar tidak tertukar di masjid. Ali.

Aku belum mengembalikannya.

***

“Cerpennya Ali dimuat lagi,” kata Sofia, memegang koran hari ini.

“Mana?” Aku merebut koran itu darinya yang membuat Sofia agak cemberut. “Maaf-maaf, aku penasaran apa lagi imajinasi Ali kali ini.”

“Iya deh yang tetanggaan dan teman masa kecil, kamu lebih berhak, iya.”

“Jangan cemberut gitu, ah, Sof.” Kulanjutkan membaca. 

Cerpennya kali ini tentang kisah penumpang kereta api. Hm, ini hasil cari inspirasi yang dia bilang beberapa hari yang lalu itu? Tokohnya adalah si stasiun itu sendiri yang bercerita tentang orang-orang yang tiap hari datang ke tempatnya: yang pegawai kantoran yang kusut mukanya, yang pencari kerja berpakaian rapi jali dan membawa map, yang berniat mencopet dengan mata jelalatan, yang sebetulnya miskin tapi berusaha tampil necis, yang mahasiswa, yang anak sekolah, macam-macam.

Yang menarik, ada seorang tokoh laki-laki yang datang ke stasiun dan berdiri di peron. Sepertinya ia hendak ke kota, tapi sepertinya juga tidak. Ia membiarkan satu kereta lewat, lalu cemas menunggu yang berikutnya. Tapi saat yang kedua lewat, ia masih tak beranjak. Sampai lewat yang ketiga, ia makin sering menatap jam tangannya. Ia makin panik saat mendengar pengumuman kereta berikutnya mengalami gangguan. Si stasiun berpikir, kenapa tak naik dari tadi saja jika memang ingin pergi?

Sembari menunggu, laki-laki itu merapikan pakaiannya: setelan jas murah dan sepatu pinjaman dilengkapi tas kantor butut. Isinya ketika ia buka bukan laptop, tapi kertas-kertas yang disusun agak berantakan. Lalu ia menutupnya lagi. Sesekali mengambil pena untuk mencorat-coret buku cacatan kecil di tangannya. Sepertinya orang ini mau melamar kerja. Laki-laki itu terlonjak ketika mendengar pengumuman kereta keempat segera tiba. Keretanya cukup sesak. Ia tengah menutup tasnya ketika pintu kereta terbuka dan ia terdorong oleh sejumlah orang yang keluar. Tasnya jatuh dan kertas-kertas di dalamnya berhamburan. Dalam ketergesaan mengumpulkan kembali kertas-kertasnya, pintu kereta sudah menutup. Ia kehilangan kereta keempat. Ia dengan pandangan tidak percaya menatap jam tangannya lagi. Sudah terlambat jika ia menunggu kereta kelima. Di cerita itu si stasiun hanya menertawakan laki-laki itu.

Sofi mengambil koran dariku.

“Jadi cerita ini tentang apa? Tumben cerpennya Ali susah dimengerti begini. Hai teman kecilnya Ali, kamu ngerti?”

Aku berpikir cukup lama sampai akhirnya menjawab, “Iya.”

***

Aku terburu-buru pulang sore itu. Tanpa merasakan desakan ibu-ibu di gerbong khusus perempuan, aku membiarkan diriku berayun sesuai hukum Newton pertama. Pikiranku tidak jelas arahnya kemana. Biasanya memang tidak jelas, tapi kali ini beberapa level di atasnya. Sampai di stasiun, aku bahkan hampir mendorong orang di depanku yang juga mau turun. Setelah meminta maaf, aku bergegas menuju rumah.

Saat membuka pintu, aku melihat ayahku sedang duduk di ruang tamu membaca koran.

“Cerpen Ali dimuat lagi ya,” kata ayah.

Aku sempat ragu-ragu sebelum bertanya. “Menurut ayah, seharusnya laki-laki di cerpen itu pulang saja atau menunggu kereta kelima tetapi terlambat?”

Ayah menatapku agak lama. Mata kami berdua bertemu dan beberapa detik aku tidak berkedip.

***

Kusambar sandal jepit biru jelek itu dari depan pintu kamar mandi dan tanpa berganti baju segera keluar. Kali ini aku membawa dua sandal: yang merah kupakai dan yang biru kutenteng. Satu tangan menenteng sandal, satunya lagi meremas halaman koran yang memuat cerpen Ali. Dadaku berdebar keras sampai sakit rasanya.

Itu dia, di sana. Di pondok samping masjid, sedang berdongeng pada anak-anak kecil. Dari yang samar kudengar, sepertinya kisah Perang Uhud. Aku berhenti agak jauh dari pondok itu. Aku tidak mau ia melihatku yang berantakan. Suara kerikil yang terinjak keras membuat Ali dan anak-anak kecil itu menoleh.

Aku mengatur napas. Sandal yang kubawa kulempar ke tanah. Aku meremas koran itu lebih kuat lagi.

“Kereta keempat!” kataku sedikit keras. Ali tak mengerti.

“Kubilang, harusnya laki-laki itu naik kereta keempat. Siapa peduli kertas-kertasnya terbang? Ia bisa menulisnya lagi.”

Ali menatap koran yang kupegang. Wajahnya menyatakan ia mengerti.

“Tapi kereta keempat sudah lewat,” katanya.

“Naik ojek, lah! Atau cari cara lain!” Tak bisa aku menahan geram.  “Yang penting sampai! Terlambat atau tidak, bukan laki-laki itu yang memutuskan. Yang perlu dia lakukan cuma sebisa mungkin tidak ragu-ragu dan mengulangi kesalahan yang sama!”

Baik, ini sudah berlebihan. Aku merasa malu sendiri. Seharusnya aku menunggu untuk melihat reaksinya, tapi kepalaku rasanya seperti terbakar. Aku berlari pulang, menerobos masuk kamar mandi, dan mencelupkan kepalaku ke bak mandi tanpa melepas kerudungnya.
Aku sudah gila. Ini pertama kalinya.

***

Kegilaan yang kedua muncul malam harinya.

“Aku tidak membawa apa-apa, Paman...”

Lalu, “Aku pernah berusaha menulis sebuah buku yang kupikir akan jadi buah tangan yang kubawa untuk mengunjungi rumah ini dan menghadap Paman. Tapi aku tidak pernah merasa yakin untuk memulai kisah yang panjang. Aku mengubah isinya setiap kali kudengar seseorang datang ke rumah ini dengan tujuan yang sama denganku. Walaupun aku langsung menyesal sambil merasa lega Paman dengan sopan menolak tangan mereka. Sekaligus waswas, karena kupikir aku harus membuat cerita yang lebih bagus lagi. Jika mereka Paman tolak, bagaimana denganku yang tak membawa apa-apa?”

Kegilaanku adalah duduk di pojok ruangan di samping ruang tamu untuk mencuri dengar pembicaraan mereka. Aku tak pernah melakukan ini sebelumnya. Ah, degup jantung ini, pusing kepala ini, panas wajah ini, barangkali persis yang dirasakan gadis-gadis itu. Dan ada perasaan menggelitik di perut, seperti kumpulan sesuatu yang memaksa naik menembus dada, yang berusaha kuabaikan.

“Lalu apa yang membuatmu memutuskan untuk datang? Bagaimana jika sudah terlambat?” kudengar ayah bertanya.

Diam sejenak. “Kuserahkan keputusan itu sepenuhnya kepada Paman...”

Tanpa kusadari, tanganku terangkat ke telinga dan menutup keduanya rapat-rapat. Sesaat tidak ada yang kudengar selain detak jantungku sendiri yang seperti genderang.

“... Ahlan wa sahlan, Ali...”

Aku menolehkan kepalaku ke samping. Yang kulihat memang hanya tembok putih, tapi bisa kubayangkan apa yang sedang terjadi di baliknya: ayahku tersenyum menyalami Ali yang bingung. Bibirku menarik diri ke samping tanpa kuperintah. Tanganku kini sudah meremas jilbab, mengangkatnya menutupi wajahku. Walaupun telingaku tak bisa mendengarnya, otakku tahu, aku sedang menangis sekencang-kencangnya.

Kegilaan yang ketiga. Merayakan hati yang senangnya sedang tak terkira.
(end)

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...