Aku bukannya tidak suka ketika sahabat terdekat ayah berkunjung
ke rumah untuk meminang. Maksudku, siapa yang cukup kurang waras untuk menolak
memiliki suami yang begitu dermawan dan punya hubungan dekat dengan keluarga
kita? Hanya saja aku tak merasakan kesenangan yang kupikir akan kurasakan
ketika malam itu ayah Aisyah datang. Akhirnya aku hanya berdiam di kamar, tanpa
punya debar-debar khusus seperti yang mungkin para gadis umumnya rasakan. Saat
pada akhirnya ayahku menolak ayah Aisyah dengan halus, rasa lega pun tidak
terlalu kentara. Pun demikian yang kurasakan ketika kali berikutnya dua sahabat
ayah yang lain datang ke rumah.
“Aku tidak mengerti apa yang ayahmu cari?” tanya Sofia,
sahabatku di tempat kerja. “Maksudku, ya ampun, tiga orang paling keren di kota
datang ke rumahmu. Direktur NGO, pejabat tinggi kota, dan CEO perusahaan! Pilih
mana saja sudah menang banyak.”
Aku tertawa garing saja mendengarnya berceloteh. Kupikir
ada benarnya juga kata-kata Sofia. Menang banyak, ya. Hmm.
Pukul empat aku dan Sofia mulai berkemas. Masih ada waktu
satu jam sebelum waktunya pulang. Berhubung pekerjaan hari ini sudah selesai,
kami memutuskan untuk mampir membeli kopi.
“Kamu sendiri, ingin yang seperti apa?” Sofia bertanya
lagi.
“Hm?”
“Calon suami. Pasti ada bayangan kan?”
“Oh, hehe. Biasa saja. Siapapun yang disetujui ayahku
boleh.”
“Meskipun kamu nggak mencintainya?”
Aku lagi-lagi hanya menimpalinya dengan tawa. Tapi
sebetulnya aku cukup terganggu dengan obrolan itu. Kami akhirnya berpisah di
lobi gedung, berhubung arah tempat tinggal kami berlawanan. Seperti biasa, aku
lebih menyukai naik kereta daripada angkutan umum lainnya. Dan sesampainya di
stasiun tujuan, langkahku terhenti di depan pintu masuk stasiun.
“Ngapain, Li?” tanyaku pada seorang pemuda kurus yang
tengah memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di jalan depan stasiun. Ia
menoleh.
“Oh, Fatimah.” Begitu saja. Ia kembali menatap
orang-orang satu per satu.
“Aku tanya, kamu lagi ngapain?”
“Cari inspirasi,” jawabnya akhirnya, tanpa menoleh.
Ya ya, aku terbiasa dengan ini. Sebelum bertanya pun
sebetulnya aku bisa memperkirakan jawabannya. Dengan agak meliriknya heran
sekali lagi, aku berlalu pulang. Langkahku terasa ringan.
***
Minggu ini rencananya aku tak ingin kemana-mana. Istirahat
di rumah dan seharian terbebas dari sinar matahari yang terik. Ayah belum
pulang dari masjid sejak keluar Subuh tadi. Aku hanya berharap hari ini menjadi
hari yang tenang.
Kemarin dulu, setelah mengisi kultum setelah Subuh di
masjid, sejumlah orang menyerbunya untuk protes macam-macam. Aku tidak bisa melupakan
wajah ayah hari itu. Dan hari-hari lain, sebetulnya, karena bukan hanya
sekali-dua kali orang-orang berpikiran sempit itu menentang dan memaksa ayah
keluar dari jajaran takmir. Mereka bilang ayahku ekstrimis, cikal-bakalnya
teroris.
Aku ingat kejadian yang sudah lama. Di saat yang juga
tenang seperti ini. Hari itu, saat hendak mencuci piring, aku mendengar pintu
rumah diketuk dengan kasar dan suara perempuan memanggilku.
“Bu Aim?” ucapku setelah membuka pintu.
“Cepat! Orang-orang sedang kumpul di masjid. Ayahmu
dikepung warga lagi! Sepertinya beliau mencoba menasihati warga soal Yasinan.”
Tanpa menutup pintu, aku langsung melesat ke arah masjid.
Kakiku yang hanya berbalut kain menerjang kerikil di jalan setapak menuju
masjid. Dari kejauhan aku melihat kerumunan. Aku menerobosnya. Saat sampai di
depan barisan, aku menjumpai pemandangan yang membuatku harus menambahkan satu
lagi daftar raut wajah ayah yang tidak akan bisa kulupakan.
Wajahnya berlumuran tepung dan cipratan telur mengotori
pakaiannya. Kulihat Paman Umar sedang mengusir para pelakunya pergi. Melihat
wajah Paman Umar yang mengeras menyeramkan, aku yakin ayah telah melarangnya
berbuat kasar pada mereka. Di sisi lain ayah Aisyah sedang membantu
membersihkan pakaian ayah. Aku berjalan mendekat.
Ayah tersenyum. “Maaf ya, lagi-lagi Fatimah akan punya
pekerjaan tambahan mencuci pakaian kotor ayah.”
Tanganku gemetaran. Aku ingin bilang, “Cuci sendiri. Atau
suruh mereka cucikan.”
Tapi yang keluar dari mulutku adalah, “Tidak perlu minta
maaf. Masukkan saja ke bak pakaian kotor. Nanti akan Fatimah cuci. Dan akan
Fatimah belikan yang baru, sebanyak yang ayah butuhkan, biar mereka tahu bahwa
butuh lebih dari tepung dan telur untuk menghentikan ayah.”
Aku mengepalkan tanganku dan melangkah pergi. Cepat,
cepat, atau aku tidak akan sempat menyembunyikan mataku yang panas dan berair.
Tiba di pinggir sebuah kolam di bagian belakang masjid, aku berhenti dan
berjongkok, menyembunyikan wajahku dalam dekapan lutut.
Kudengar suara langkah kaki di belakangku dan sesaat
berikutnya seperti ada benda yang dijatuhkan di depanku. Perlahan aku
mengangkat kepala dan kulihat sepasang sandal di tanah. Orang yang
menjatuhkannya sepertinya ada di belakangku, tapi aku malu untuk berbalik
meskipun penasaran siapa yang melakukannya.
“Tak perlu berbalik. Pakai saja sandalnya, kakimu bisa
luka.”
Aku mengangguk pelan. Suaraku terlalu bergetar untuk
mengucap terima kasih. Setelahnya langkah kaki terdengar menjauh. Aku memang
tidak menoleh, tapi aku sudah tahu kepada siapa sandal itu nanti harus
dikembalikan. Di sandal jepit biru itu diukir nama agar tidak tertukar di
masjid. Ali.
Aku belum mengembalikannya.
***
“Cerpennya Ali dimuat lagi,” kata Sofia, memegang koran
hari ini.
“Mana?” Aku merebut koran itu darinya yang membuat Sofia
agak cemberut. “Maaf-maaf, aku penasaran apa lagi imajinasi Ali kali ini.”
“Iya deh yang tetanggaan dan teman masa kecil, kamu lebih
berhak, iya.”
“Jangan cemberut gitu, ah, Sof.” Kulanjutkan membaca.
Cerpennya kali ini tentang kisah penumpang kereta api. Hm, ini hasil cari
inspirasi yang dia bilang beberapa hari yang lalu itu? Tokohnya adalah si
stasiun itu sendiri yang bercerita tentang orang-orang yang tiap hari datang ke
tempatnya: yang pegawai kantoran yang kusut mukanya, yang pencari kerja
berpakaian rapi jali dan membawa map, yang berniat mencopet dengan mata
jelalatan, yang sebetulnya miskin tapi berusaha tampil necis, yang mahasiswa,
yang anak sekolah, macam-macam.
Yang menarik, ada seorang tokoh laki-laki yang datang ke
stasiun dan berdiri di peron. Sepertinya ia hendak ke kota, tapi sepertinya
juga tidak. Ia membiarkan satu kereta lewat, lalu cemas menunggu yang
berikutnya. Tapi saat yang kedua lewat, ia masih tak beranjak. Sampai lewat
yang ketiga, ia makin sering menatap jam tangannya. Ia makin panik saat
mendengar pengumuman kereta berikutnya mengalami gangguan. Si stasiun berpikir,
kenapa tak naik dari tadi saja jika memang ingin pergi?
Sembari menunggu, laki-laki itu merapikan pakaiannya:
setelan jas murah dan sepatu pinjaman dilengkapi tas kantor butut. Isinya
ketika ia buka bukan laptop, tapi kertas-kertas yang disusun agak berantakan.
Lalu ia menutupnya lagi. Sesekali mengambil pena untuk mencorat-coret buku
cacatan kecil di tangannya. Sepertinya orang ini mau melamar kerja. Laki-laki
itu terlonjak ketika mendengar pengumuman kereta keempat segera tiba. Keretanya
cukup sesak. Ia tengah menutup tasnya ketika pintu kereta terbuka dan ia
terdorong oleh sejumlah orang yang keluar. Tasnya jatuh dan kertas-kertas di
dalamnya berhamburan. Dalam ketergesaan mengumpulkan kembali kertas-kertasnya,
pintu kereta sudah menutup. Ia kehilangan kereta keempat. Ia dengan pandangan
tidak percaya menatap jam tangannya lagi. Sudah terlambat jika ia menunggu
kereta kelima. Di cerita itu si stasiun hanya menertawakan laki-laki itu.
Sofi mengambil koran dariku.
“Jadi cerita ini tentang apa? Tumben cerpennya Ali susah
dimengerti begini. Hai teman kecilnya Ali, kamu ngerti?”
Aku berpikir cukup lama sampai akhirnya menjawab, “Iya.”
***
Aku terburu-buru pulang sore itu. Tanpa merasakan desakan
ibu-ibu di gerbong khusus perempuan, aku membiarkan diriku berayun sesuai hukum
Newton pertama. Pikiranku tidak jelas arahnya kemana. Biasanya memang tidak
jelas, tapi kali ini beberapa level di atasnya. Sampai di stasiun, aku bahkan
hampir mendorong orang di depanku yang juga mau turun. Setelah meminta maaf,
aku bergegas menuju rumah.
Saat membuka pintu, aku melihat ayahku sedang duduk di
ruang tamu membaca koran.
“Cerpen Ali dimuat lagi ya,” kata ayah.
Aku sempat ragu-ragu sebelum bertanya. “Menurut ayah,
seharusnya laki-laki di cerpen itu pulang saja atau menunggu kereta kelima
tetapi terlambat?”
Ayah menatapku agak lama. Mata kami berdua bertemu dan
beberapa detik aku tidak berkedip.
***
Kusambar sandal jepit biru jelek itu dari depan pintu
kamar mandi dan tanpa berganti baju segera keluar. Kali ini aku membawa dua
sandal: yang merah kupakai dan yang biru kutenteng. Satu tangan menenteng
sandal, satunya lagi meremas halaman koran yang memuat cerpen Ali. Dadaku
berdebar keras sampai sakit rasanya.
Itu dia, di sana. Di pondok samping masjid, sedang
berdongeng pada anak-anak kecil. Dari yang samar kudengar, sepertinya kisah
Perang Uhud. Aku berhenti agak jauh dari pondok itu. Aku tidak mau ia melihatku
yang berantakan. Suara kerikil yang terinjak keras membuat Ali dan anak-anak
kecil itu menoleh.
Aku mengatur napas. Sandal yang kubawa kulempar ke tanah.
Aku meremas koran itu lebih kuat lagi.
“Kereta keempat!” kataku sedikit keras. Ali tak mengerti.
“Kubilang, harusnya laki-laki itu naik kereta keempat.
Siapa peduli kertas-kertasnya terbang? Ia bisa menulisnya lagi.”
Ali menatap koran yang kupegang. Wajahnya menyatakan ia
mengerti.
“Tapi kereta keempat sudah lewat,” katanya.
“Naik ojek, lah! Atau cari cara lain!” Tak bisa aku
menahan geram. “Yang penting sampai!
Terlambat atau tidak, bukan laki-laki itu yang memutuskan. Yang perlu dia
lakukan cuma sebisa mungkin tidak ragu-ragu dan mengulangi kesalahan yang sama!”
Baik, ini sudah berlebihan. Aku merasa malu sendiri.
Seharusnya aku menunggu untuk melihat reaksinya, tapi kepalaku rasanya seperti
terbakar. Aku berlari pulang, menerobos masuk kamar mandi, dan mencelupkan
kepalaku ke bak mandi tanpa melepas kerudungnya.
Aku sudah gila. Ini pertama kalinya.
***
Kegilaan yang kedua muncul malam harinya.
“Aku tidak membawa apa-apa, Paman...”
Lalu, “Aku pernah berusaha menulis sebuah buku yang
kupikir akan jadi buah tangan yang kubawa untuk mengunjungi rumah ini dan
menghadap Paman. Tapi aku tidak pernah merasa yakin untuk memulai kisah yang
panjang. Aku mengubah isinya setiap kali kudengar seseorang datang ke rumah ini
dengan tujuan yang sama denganku. Walaupun aku langsung menyesal sambil merasa
lega Paman dengan sopan menolak tangan mereka. Sekaligus waswas, karena kupikir
aku harus membuat cerita yang lebih bagus lagi. Jika mereka Paman tolak,
bagaimana denganku yang tak membawa apa-apa?”
Kegilaanku adalah duduk di pojok ruangan di samping ruang
tamu untuk mencuri dengar pembicaraan mereka. Aku tak pernah melakukan ini
sebelumnya. Ah, degup jantung ini, pusing kepala ini, panas wajah ini, barangkali
persis yang dirasakan gadis-gadis itu. Dan ada perasaan menggelitik di perut,
seperti kumpulan sesuatu yang memaksa naik menembus dada, yang berusaha
kuabaikan.
“Lalu apa yang membuatmu memutuskan untuk datang?
Bagaimana jika sudah terlambat?” kudengar ayah bertanya.
Diam sejenak. “Kuserahkan keputusan itu sepenuhnya kepada
Paman...”
Tanpa kusadari, tanganku terangkat ke telinga dan menutup
keduanya rapat-rapat. Sesaat tidak ada yang kudengar selain detak jantungku
sendiri yang seperti genderang.
“... Ahlan wa sahlan, Ali...”
Aku menolehkan kepalaku ke samping. Yang kulihat memang
hanya tembok putih, tapi bisa kubayangkan apa yang sedang terjadi di baliknya:
ayahku tersenyum menyalami Ali yang bingung. Bibirku menarik diri ke samping
tanpa kuperintah. Tanganku kini sudah meremas jilbab, mengangkatnya menutupi
wajahku. Walaupun telingaku tak bisa mendengarnya, otakku tahu, aku sedang
menangis sekencang-kencangnya.
Kegilaan yang ketiga. Merayakan hati yang senangnya
sedang tak terkira.
(end)