18 Juli 2014
Aku pernah mendengar tentang perang di luar sana. Aku juga
pernah mendengar kisah-kisah di dalamnya yang mengurai air mata. Kita,
nyatanya, belumlah hidup di surga. Bayangan surga adalah noktah-noktah harapan
yang membuat bertahan mereka yang percaya. Aku percaya. Mereka juga percaya.
Sampai masa ketika dunia menjadi ramah untukmu dan tempat
bertumbuh yang ideal bagi anak-anakmu, teruslah percaya. Percaya tak akan
membuat rugi siapa-siapa. Dalam peperangan mereka yang bertemu Tuhannya adalah
mereka yang tidak menyesal. Kamu, janganlah sampai menarik kata-kata dalam doa.
Kamu, teruslah berdiri dan tak perlu berlari. Hidupmu adalah kemenangan, matimu
adalah rahmat.
Pernahkan terbersit dalam dirimu rasa iri pada duniaku? Di negeri
ini orang-orangnya pergi ke mall-mall dan taman hiburan. Kami menonton acara
komedi di televisi sambil makan camilan. Aku pergi ke kampus setiap hari,
membolos jika merasa malas. Kubaca kitab suci hanya ketika hati lapang dan waktu
terlalu senggang. Pernahkan kamu iri kepadaku?
Halaman rumah orang lain selalu terlihat lebih indah kan?
Demikian juga halaman rumahmu. Dalam mimpiku puing di halaman rumahmu adalah
tetaman yang wangi dan menjanjikan ketenangan surgawi. Barangkali aku telah bosan
berkeliling di duniaku yang monoton. Barangkali aku ingin dikenang menjadi
salah satu yang mati berjuang, disampingmu, bersama rekan-rekanmu lainnya. Aku
menjadi rangka yang berjalan mengelilingi kota.
Perang di duniamu adalah nyanyian pemanggil mereka yang
rindu berjuang. Jeritan anak-anakmu adalah ketukan pintu yang keras-keras
memekakkan hati mereka yang manusia. Perang di duniamu adalah jalan pintas yang
berbatasan langsung dengan surga. Kamu sudah memegang tiket VIP. Aku di sini
masih mengumpulkan bekal untuk bisa ditukar dengan satu tiket atas namaku. Rasa iriku padamu seperti membakar jantungku.
16 Desember 2016
Lahir dan menua di wilayah tanpa pesawat pengebom berlalu-lalang di atasnya adalah rahmat yang perlu disyukuri berulang-ulang. Aku, sahabat, barangkali termasuk salah satu orang yang sering lupa.
Kabar-kabar tentang rumah tetanggamu berhujanan di media-media, menimbulkan sekilas rintik di wajah rekan-rekanku di sini. Kalau begitu sederas apa hujan di halaman rumahmu? Ataukah langit di atapmu sudah terlampau kering dan udara menjadi anyir? Aku hanya bisa membayangkannya saja dan berpura-pura simpati.
Aku belum sempat menjengukmu. Katamu ketika bunga-bunga bersemi kau akan mengajakku berjalan-jalan di sekitaran Kota Lama, mengunjungi gereja-gereja tua, menuntunku bersujud di dalam Al-Aqsha, dan mengagumi kemegahan Dome of The Rock. Aku belum sempat. Kesibukan seperti penjara yang kubuat sendiri. Entah kapan akan sempat.
Sahabat, apakah kau menangis juga bersama Aleppo? Aku melihat banyak tetanggamu itu mengirim pesan-pesan seolah akan menjadi terakhir kalinya. Aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya menghitung mundur waktu kematian kita sendiri? Jika kita bisa melihat Izrail, barangkali ia tengah sibuk mendata jiwa-jiwa yang tersisa dan memilah mana di antara mereka yang masuk antrian kematian paling depan. Apakah kau juga sudah menyiapkan pesan yang sama?
Kematian sungguh menyeramkan. Tapi justru di rumahmu dan kompleks rumit tetangga-tetanggamu kematian justru penyelamat dari rasa sakit dan ketakutan. Tak ada yang tersisa untuk dipertahankan ketika kematian menjadi jalan kemerdekaan. Kecuali kau memilih menjadi pengungsi demi memberi kesempatan anak-anakmu melihat lebih banyak ciptaan Tuhan.
Anak-anak itu, sahabat, dalam diri mereka ada bara api yang tidak pernah padam. Bukan luka, tapi bara. Luka sudah biasa ditorehkan hingga mati rasa. Justru dendam yang nantinya akan menyalakan tindakan: perjuangan pulang ke rumah. Seperti Yahudi-Yahudi yang terusir dari Eropa, kau dan anak-anakmu yang memilih mengungsi akan memendam semangat yang sama: rumahmu akan kau rebut kembali. Dan darah akan kembali tertumpah.
Apakah benar kata Marx yang bilang bahwa agama adalah candu? Tapi konflik di rumahmu bukan perkara agama. Bukan agama yang melahirkannya. Semata-mata kerakusan manusia, sedangkan agama menjadi alat yang menyatukan pikiran-pikiran yang satu tujuan tapi berbeda jalan. Kudengar juga pengirim pean-pesan kematian itu bukanlah dari golonganmu melainkan musafir-musafir lewat yang bersimpati. Siapapun itu, pesan telah sampai ke rumahku dan menimbulkan kalut dalam informasi berkabut.
Berdirilah tegap, sahabat. Lelah adalah tanda kita sudah berjuang. Sampai dunia ini jadi rumah yang ramah untuk anak-anakmu.
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
'Kan menjadi saksi pengorbanan
(Bingkai Kehidupan-Shoutul Harokah)
Berdirilah tegap, sahabat. Lelah adalah tanda kita sudah berjuang. Sampai dunia ini jadi rumah yang ramah untuk anak-anakmu.
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
'Kan menjadi saksi pengorbanan
(Bingkai Kehidupan-Shoutul Harokah)