Minggu, 03 Januari 2016

Surat Cinta untuk Niah

Assalamu'alaykum wr. wb.
Semoga Allah senantiasa mengiringi langkahmu dengan lindunganNya.

Kutulis surat kecil ini untuk sahabatku yang Insha Allah di dunia dan akhirat. Kita dipertemukan, aku yakin bukan dalam ketidaksengajaan. Yang kuyakini, segala yang terjadi telah dituliskanNya dengan sempurna hingga tiap detilnya. Kuyakini juga bahwa selalu ada pembelajaran bagi mereka yang berpikir dan mencari hikmah dalam setiap takdir yang disiapkan Allah. Termasuk kesempatan untuk mengenalmu, baik sebagai pribadi maupun partner yang membuatku mendapatkan pelajaran, disadari atau tidak.

Satu Musim

Bukan masalah besar seandainya gerimis mengetuk pintu sore itu
Suaramu menyisip-nyisip di antara celah setrip air yang tumpah perlahan

"Teruslah bertiup, memberi dingin semilir tanpa membasahi siapapun.."

begitu kudengar kau berkata pada angin
Begitu saja, luruh, lepas, bebas

Resah seperti vitamin dalam hujan terakhir dulu
Akankah tanah tetap basah?

Hujan tahun lalu itu hanyalah awal kisah yang kini tamat ditebas gersang

Ailsaku

Padanya mataku selalu tertuju. Di antara lautan manusia yang berlalu-lalang keluar-masuk pandangan, tatapku selalu bisa menangkapnya. Ya, aku selalu bisa menangkap geraknya dalam frame-frame­ ingatan otakku yang kecil. Jika tak terlihat, mataku gelisah, leherku sibuk menengak-nengok ke semua arah. Aku berharap bisa melihatmu muncul dari balik dinding, dari belokan koridor, dari tangga mushola, dari semua sudut yang bisa tertangkap pandangku. Aku tenang dengan keberadaanmu. Ailsa, aku sungguh mencintaimu.

Satu Bijak tentang Bunga

(There's a sudden feeling to post this after hearing your story. I wrote this more than a year ago, didn't mean to share it. Without a need to mention, hope you still read this)

Ada dua bunga yang disodorkan padamu tepat di hari kelulusanmu dari universitas. Keduanya bunga mawar yang merah mempesona. Tanpa duri, indah dipandang. Ia sangat cocok dengan gaun kebaya merah jambu yang kau pakai.

Bunga pertama dibawakan oleh laki-laki yang kau cintai. Bunga yang dibuat dengan tangan dan dipesan khusus untukmu. Kau tak perlu merawatnya. Tinggal masukkan ke vas dan pajang di meja ruang tamumu, atau di kamar agar kau bisa melihatnya setiap hari. Bunga itu tak akan pernah layu walau kau lupa menyiramnya.

The Girl who Lets Him Go

Once, a girl and a boy met up under a tree near a river. It would be more romantic to story-telling if the tree was a willow or cherry. But they only found a mango tree by the river, so it was nevermind. Who would care about the tree when the one who always filled your dreams sitting beside you?

The boy didn't say anything, so did the girl. Sometimes they would just glance to each other ("Is that a rainbow in her eyes?" said the boy, deep in his heart), too shy to start a conversation. Was that around 30 minutes? An hour, or even more? They both never counted. As the time flied and days passed, they finally knew each other names and addresses.

After D(e)ad Scenario

9 January 2015, 2.00 pm
Let me tell you one thing. This piece of paper is not a kind of confession. No one will ever read this and everything’s better being buried along with that crushed body.

I didn’t find anyone else who can hold himself from telling others what I was about to tell. People just a broken piece of glass that can’t have any water filled into. As soon after I told them, they would whisper it throughout the world. I trust no one.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...