Minggu, 28 Februari 2016

Ali Fatimah



Aku bukannya tidak suka ketika sahabat terdekat ayah berkunjung ke rumah untuk meminang. Maksudku, siapa yang cukup kurang waras untuk menolak memiliki suami yang begitu dermawan dan punya hubungan dekat dengan keluarga kita? Hanya saja aku tak merasakan kesenangan yang kupikir akan kurasakan ketika malam itu ayah Aisyah datang. Akhirnya aku hanya berdiam di kamar, tanpa punya debar-debar khusus seperti yang mungkin para gadis umumnya rasakan. Saat pada akhirnya ayahku menolak ayah Aisyah dengan halus, rasa lega pun tidak terlalu kentara. Pun demikian yang kurasakan ketika kali berikutnya dua sahabat ayah yang lain datang ke rumah.

Jumat, 15 Januari 2016

Jalan Raya yang Kita Buat



Di sebuah kertas kosong, kudeskripsikan untukmu, gambaran sebuah jalan raya di antara rumah kita biar bisa kau buat jadi nyata. Meski awalnya hanya sedikit yang memakai, ternyata makin lama makin banyak orang berlalu-lalang melewati rumah kita. Jalanan itu jadi tempat orang-orang mencari kekasih. Atau jadi sarana para penyendiri yang menghabiskan waktu menikmati pemandangan dan merenungi pembenaran-pembenaran bagi kesendirian mereka. Karena di kanvas itu kugambarkan juga gerumbul-gerumbul pohon dan satu-dua sungai dengan jembatan di atasnya. Di bus yang berlalu di jalan raya itu, kita bertemu.

Minggu, 03 Januari 2016

Surat Cinta untuk Niah

Assalamu'alaykum wr. wb.
Semoga Allah senantiasa mengiringi langkahmu dengan lindunganNya.

Kutulis surat kecil ini untuk sahabatku yang Insha Allah di dunia dan akhirat. Kita dipertemukan, aku yakin bukan dalam ketidaksengajaan. Yang kuyakini, segala yang terjadi telah dituliskanNya dengan sempurna hingga tiap detilnya. Kuyakini juga bahwa selalu ada pembelajaran bagi mereka yang berpikir dan mencari hikmah dalam setiap takdir yang disiapkan Allah. Termasuk kesempatan untuk mengenalmu, baik sebagai pribadi maupun partner yang membuatku mendapatkan pelajaran, disadari atau tidak.

Satu Musim

Bukan masalah besar seandainya gerimis mengetuk pintu sore itu
Suaramu menyisip-nyisip di antara celah setrip air yang tumpah perlahan

"Teruslah bertiup, memberi dingin semilir tanpa membasahi siapapun.."

begitu kudengar kau berkata pada angin
Begitu saja, luruh, lepas, bebas

Resah seperti vitamin dalam hujan terakhir dulu
Akankah tanah tetap basah?

Hujan tahun lalu itu hanyalah awal kisah yang kini tamat ditebas gersang

Ailsaku

Padanya mataku selalu tertuju. Di antara lautan manusia yang berlalu-lalang keluar-masuk pandangan, tatapku selalu bisa menangkapnya. Ya, aku selalu bisa menangkap geraknya dalam frame-frame­ ingatan otakku yang kecil. Jika tak terlihat, mataku gelisah, leherku sibuk menengak-nengok ke semua arah. Aku berharap bisa melihatmu muncul dari balik dinding, dari belokan koridor, dari tangga mushola, dari semua sudut yang bisa tertangkap pandangku. Aku tenang dengan keberadaanmu. Ailsa, aku sungguh mencintaimu.

Satu Bijak tentang Bunga

(There's a sudden feeling to post this after hearing your story. I wrote this more than a year ago, didn't mean to share it. Without a need to mention, hope you still read this)

Ada dua bunga yang disodorkan padamu tepat di hari kelulusanmu dari universitas. Keduanya bunga mawar yang merah mempesona. Tanpa duri, indah dipandang. Ia sangat cocok dengan gaun kebaya merah jambu yang kau pakai.

Bunga pertama dibawakan oleh laki-laki yang kau cintai. Bunga yang dibuat dengan tangan dan dipesan khusus untukmu. Kau tak perlu merawatnya. Tinggal masukkan ke vas dan pajang di meja ruang tamumu, atau di kamar agar kau bisa melihatnya setiap hari. Bunga itu tak akan pernah layu walau kau lupa menyiramnya.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...