Jumat, 20 Mei 2016

Gang Dieng RW 2 Desa Wero (Part 1: Lahirnya Legenda)

Kuberi tahu kau, aku adalah legenda hidup. Kisah kehidupanku sudah terkenal di wilayah RW sini. Anak-anak sudah diperingatkan orang tua mereka agar tak mengusikku, apalagi ketika aku sedang berjemur. Siapa pun wajib menyingkir membuka jalan saat aku mau lewat. Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya. Aku bisa membuatnya mengalami trauma berkepanjangan.

Seorang perempuan yang biasa dipanggil warga sekitar "Umi" memisahkanku dari orang tua dan saudara-saudaraku yang lain di RT sebelah. Aku masih berusia 2 bulan. Umi membawaku ke rumahnya dan melatihku mengusir tikus di warung dan dapurnya. Aku melakukannya dengan terpaksa selama berbulan-bulan sampai aku jengah. Tikus-tikus itu terlalu bodoh dan lamban. Pemburu sejati tak puas dengan mangsa yang mudah ditangkap.

Ini awal dari kisahku yang melegenda.

Di tengah kebosanan dan pencarian makna hidup, aku sering berjalan-jalan keliling Gang Dieng. Aku melihat banyak hal, malam dan siang. Aku lihat waktu bocah-bocah cilik sekitar usia 8-10 tahun dari RT sebelah bersusah-payah memanjat pagar rumah Bu Toto untuk mencuri sepasang merpati. Saat mereka saling berdebat siapa yang akan mengambil merpati dan berjaga di depan pagar, aku dengan mudah melompat ke balik pagar. Kudekati merpati-merpati bodoh yang tak sadar sedang diincar.

"Dor!" seruku mengagetkan mereka. Empat atau lima merpati dalam kandang kayu terlonjak dan menyumpah-nyumpah.

"Brengsek! Siapa bikin kaget malam-malam?" kata salah satunya yang paling gemuk.

"Surprise!" kataku. Aku langsung berlari pergi setelah meninggalkan senyum menawan untuk mereka.

Sepeninggalku, merpati-merpati itu masih menyumpah-nyumpah. Bocah-bocah cilik tadi sudah berhasil melewati pagar dan panik karena merpati-merpati itu berisik. Tepat saat aku berlari di belokan depan, seseorang dari dalam rumah itu keluar. Bisa kau tebak akhir kisahnya, kan? Rencana pencurian amatir itu terbongkar. Bocah-bocah tertangkap basah sedang membuka kandang kayu para merpati.

Esoknya di warung Umi, ibu-ibu yang berbelanja membicarakan kejadian malam itu.

"Katanya Bayu dan bocah-bocah RT sebelah ketangkap waktu nyuri merpati?" tanya Parni, ibu-ibu pendek gemuk beranak dua yang baru datang dan bergabung dengan obrolan.

"Ah, telat. Ini barusan diomongin Par, kemana aja dari tadi?" sahut Atun yang juga gemuk dan berambut keriting.

"Lha aku baru nganter si Putri. Dia masuk siang. Jadi bener beritanya? Aku baru denger dari Kamto katanya Bu Toto melaporkan mereka ke Ketua RW."

"Iya bener. Tapi Pak RW udah berangkat kerja pas Bu Toto lapor, jadi belum ada perkembangan berita," jawab Umi sambil menimbang bawang.

"Siapa aja, sih? Bayu, terus?" tanya Parni lagi.

"Ya itu, gerombolan yang tiap hari sliwar-sliwer bareng," kata Darwati. "Bayu, terus adeknya Bayu si Sena, Rizal, Ogi, terus siapa lagi itu anaknya Pak Nanang? Ada 8 deh."

"Astagaa, bocah-bocah ingusan semua. Kok bisa sih kepikir nyuri merpati?"

"Lha ya mbuh. Bocah-bocah sekarang memang nggak tahu aturan. Entah diajarin apa sama orang tuanya," Atun satunya lagi, yang kurus dan memakai kerudung, menyahut. "Untung anak-anak RT 2 sini nggak ada yang ikutan. Malu. Kangkung berapa ini, Mi?"

Umi muncul dari dalam warung membawa sejumlah barang. "Kangkung 4000. Lagi mahal sekarang. Nyayur kecipir aja nih, 2000 seunting. Dioseng sama kecambah siram saori dikit enak banget."

Sepertinya kabar itu menyebar dengan sangat cepat. Dari mulut ke mulut, dari warung ke warung. Saat aku jalan-jalan siang itu, orang-orang di patrol juga masih membicarakannya. Parni dan Atun gemuk ada di antara mereka. Aku naik ke bangku patrol dan seketika Anton, lelaki paruh baya yang suka bergosip itu, langsung menyingkir. Bangku ini sepenuhnya milikku untuk tengkurap dan memejamkan mata. Lima orang pengangguran yang sedang duduk-duduk mendengarkan cerita Parni dan Atun. Ceritanya jadi lebih seru lagi.

"Iya, katanya si Bayu yang naik ke pagar. Ogi suruh jongkok, terus Bayu naik ke pundaknya. Kaya dijunjung gitu lah. Yudi ikutan naik. Dua anak itu yang masuk pelataran," ungkap Atun.

"Pas Bayu sama Yudi masuk, ndilalah Pak Toto belum tidur. Katanya merpatinya pada berisik, jadi dia keluar ngecek. Nah ketangkeplah dua bocah itu," lanjut Parni berapi-api. "Yang lain, 6 anak sisanya pada kabur. Pas ditanya-tanya, Yudi bilang cuma mereka berdua, tapi Bayu nyebutin 6 orang lainnya."

"Hahaha..." Anton tertawa terbahak-bahak. "Pecah kongsi ya? Kalo ini cerita maling beneran, bakal ancur si Bayu tukang ngadu. Hahaha... Terus, terus?"

"Lha ya udah. Pak Toto langsung bawa si Bayu dan Yudi ke rumah masing-masing, bilang ke orang tuanya kalau mereka nyuri. Pas di rumahnya Bekti, malah jadi ribut."

"Ribut kenapa?" tanya Ndari, ibu muda yang sedang menyuapi anaknya.

"Lha si Bekti nggak percaya dua anaknya nyuri. Dia nggak terima Bayu sama Sena dibilang maling. Padahal udah jelas Bayu ketangkap basah."

"Ini nanti sore baru mau ditindak sama Pak RW. Orang tua 6 anak itu dipanggil ke rumah Pak RW bareng Pak Toto dan tetua RW buat dirembug mau bagaimana."

Suara motor terdengar dan aku membuka mata. Si Kamto datang sambil tersenyum lebar.

"Pasti lagi ngomongin bocah-bocah itu ya? Hahaha. Makanya, kalo nggak mau anaknya nyuri, minta apa aja ya beliin! Hahahaha..."

Sebelum sempat ditanggapi, Kamto, yang besar kepala karena anaknya yang anggota geng bocah-bocah itu kebetulan sedang sakit saat rencana amatir itu terjadi, sudah pergi.

Sorenya seperti yang sudah digosipkan dan tersiar dari mulut ke mulut, diadakan rapat tertutup di rumah Pak RW. Aku menyelinap masuk ke ruang tamu dan duduk di samping pintu. Ah, sayang sekali, suguhan yang dibuat Bu RW adalah pisang goreng. Bukan seleraku.

"Lho ini kucingnya Umine kenapa di sini?" tanya Pak RW.

"Biasa Pak, kucing ini ada di mana-mana. Nggak ada yang berani ngusir juga, galak banget. Aku pernah dicakar karena nggak sengaja nginjak ekornya waktu belanja di warung Umine."

Aku melirik orang yang menjawab. Ah, si  Sigit. Aku pernah membenamkan gigi taringku ke kakinya, entah yang kanan atau kiri. Plus bonus beberapa cakaran sebagai peringatan agar ia tak seenaknya menginjak ekor hitamku lagi. Sepertinya kejadiannya sudah sebulan, tapi harusnya bekas cakaran dan gigitan itu masih ada. Sayang dia pakai celana panjang jadi tidak kelihatan.

"Iya, aku juga pernah dicakar karena nggak sengaja nyenggol waktu dia tidur," sahut suara lain. Ternyata Liwon. Karena aku tak ingat kejadiannya, berarti mungkin aku hanya sedang bad mood dan sensitif. Cakaranku seharusnya tak seberapa. Ia melebih-lebihkan.

"Wah, terkenal ya kucing ini. Ya sudah, kita mulai saja langsung. Tadi sudah dibuka. Bekti belum datang, ya?"

"Belum, Pak. Ini saya SMS," jawab Heri. "Oh, ini orangnya."

Seorang perempuan datang tergopoh-gopoh sambil membawa sesuatu. Seekor merpati.

"Siapa yang nuduh-nuduh anakku maling, hah? Nggak sopan! Nih, kukasih!" Seru Bekti melempat merpati ke lantai sebelahku. Aku langsung bereaksi waspada.

Kupandangi galak merpati itu dengan bulu ekor berdiri. Oh, ternyata kakinya diikat. Oke, aman. Aku menurunkan kewaspadaanku dan kembali menggelosor di lantai.

"Aku emang miskin! Tapi nggak berarti jadi maling. Dikira aku nggak bisa beliin anak-anakku merpati? Aku bisa beli selusin kalo aku mau!"

Heri berdiri dan memegang bahu Bekti, mungkin bermaksud menenangkannya.

"Jangan pegang-pegang!" teriak Bekti histeris. Heri kaget dan langsung mundur. Para laki-laki lain di ruangan itu berpandangan, lalu ada yang menahan tawa.

"Nggih, Mba Bekti. Duduk dulu, biar Pak RW menjelaskan dulu ya," kata Teguh. "Anakku si Ogi juga ikut kok, sama kaya Bayu dan Sena. Ayo duduk dulu diselesaikan baik-baik."

"Santai, Ti. Anakku juga ikut. Yudi malah ikut manjat pagar bareng Bayu. Sini, duduk dulu," Sigit ikut bicara dan bergeser ke kanan, menyediakan tempat untuk Bekti duduk.

Setelah melirik sebal ke Heri, Bekti duduk dan Pak RW melanjutkan.

"Kasus ini ya perlu perhatian. Bukan masalah apa yang dicuri atau punya siapa, tapi pencuriannya itu sendiri. Apalagi pelakunya anak-anak di bawah umur. Kita orang tua ya patut prihatin..."

"Rencana pencurian, bukan pencurian. Kan, nggak berhasil," sahut Bekti ketus. Heri dan Sigit berpandangan menahan tawa.

"Iya, Mbak Bekti. Maaf salah. Tapi seandainya Pak Toto nggak keluar, bisa jadi tindakan pencurian. Walaupun poinnya bukan itu. Kita bisa sepakat lah ya, kalau kejadian ini nggak baik. Bagaimanapun mencuri itu tindakan buruk, kriminal. Ada hak orang lain yang diambil. Kalau nggak segera ditindak dengan tepat, nggak baik untuk anak-anak ini dan juga korban."

"Kriminal apanya, cuma merpati doang! Apa anak-anakku mau masuk penjara cuma karena mau nyuri merpati dan nggak jadi?" Bekti berdiri lagi dan menunjuk-nunjuk. "Langkahin aku dulu kalo mau bawa anak-anakku ke penjara. Aku akan pakai pengacara. Jangan remehkan ya, aku punya duit buat bayar pengacara!"

"Bekti!" seru Teguh keras. "Duduk! Ini pertemuan baik-baik untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Yang sopan!"

"Jangan nyuruh aku duduk! Jangan macem-macem mentang-mentang aku nggak punya suami! Anakku cuma mau nyuri merpati, kenapa dibesar-besarkan? Dulu anaknya Andi mabok dan nyuri uang juga nggak diperkarakan, kenapa anakku diperkarakan? Aku nggak terima!"

Pertemuan itu kacau karena si Bekti tak kunjung mau tenang. Akhirnya Bu RW bertindak dengan membawa Bekti ke dalam. Urusan ini diserahkan ke kaum laki-laki di ruang tamu itu. Aku mengantuk. Tidak ada Bekti rapat jadi membosankan. Pak Toto yang ikut hadir bilang ia tidak akan memperkarakan asalkan anak-anak itu mau minta maaf dan janji tidak akan mengulangi. Di tengah mediasi, ada suara keras dari luar rumah Pak RW.

"Hahaha... Makanya kalo nggak mau anaknya nyuri, minta apa ya beliin! Hahaha..."

"Kamto, ya?" tanya Pak RW.

"Iya, dia. Besar banget kepalanya mentang-mentang anaknya nggak ikut," kata Heri, dan lanjut bergumam, "Awas aja."

Kabar hasil pertemuan pun tersebar dengan cepat. Ya ampun, sepertinya di Gang Dieng tidak kenal yang namanya rahasia dan privasi. Cerita soal Bekti yang marah-marah langsung jadi tren melebihi cerita anak-anak yang mencuri.

"Jangan pegang-pegang, katanya. Alaah, orang dia aja udah dipegang banyak laki-laki kok," cibir Parni.

"Ssst, jangan keras-keras. Nanti kamu dilabrak lho. 'Aku nggak terima!' gitu hahahaha..." Heri menirukan gaya Bekti malam itu.

Kasus bocah-bocah ini, kudengar dari sesepuh kucing di Gang Dieng, si Vicky yang sudah berusia lebih dari 8 tahun dan buyut dari kucing-kucing di sekitar sini, bukan yang pertama kali terjadi. Setiap generasi gerombolan bocah di RW 2 ini punya kasus pencurian. Entah itu pencurian jagung, mangga, rambutan, uang infak di masjid, sandal, ayam, merpati, hingga paling parah sejauh ini motor, selalu terjadi tiap generasi. Beberapa kasus yang serius diperkarakan sampai bocah pelakunya dipenjara 3 bulan.

"Wajar lah, anak usia segitu kan suka penasaran, ikut-ikutan. Tinggal orang tuanya aja yang kasih hukuman biar kapok."

"Wajar gimana, nyuri tetep aja dosa."

"Mendingan nakal sekarang daripada kecilnya anak baik, gedenya begundal."

"Dulu anakku ikut-ikutan nyuri jagung di sawah tengah malem pulangnya kuiket tangannya ke saka. Nggak kukasih makan. Abis ngomong kapok baru kulepasin."

"Itu sih, jahat, Mbak. Hahaha..."

"Nakal boleh, yang penting nggak bodoh. Kalau bodoh, dikasih tau seperti apapun nggak akan mempan. Ngajinya juga harus dikuatin tuh."

"Alaah, anak jebolan pesantren aja banyak yang hamil di luar nikah kok. Nggak ada jaminan ngaji dan pesantren bikin anak jadi baik."

"Lha kalo ngaji aja nggak jamin, apalagi yang enggak ngaji. Ya nggak?"

"Hahaha... Makanya biar anak nggak suka nyuri, anak minta apa ya beliin. Hahaha...." Kamto lewat lagi.

Percakapan khas warung yang biasa. Topik pencurian dan Bekti masih hangat seminggu ini dan mulai membosankan. Aku hampir terlelap ketika seseorang berkata, "Pak Toto katanya bangun karena merpatinya berisik. Padahal sebelumnya enggak. Katanya ada kucing yang nyoba masuk kandang..."

Singkat, dan tak ada tanggapan yang terkesan peduli pada pernyataan tersebut. Tapi aku peduli! Ah, jadi malu. Begini ya rasanya jadi pahlawan? Haha.

Kuberi tahu kau, aku bukan kucing biasa. Aku legenda hidup. Cakar dan taringku jadi bahan pembicaraan orang-orang di wilayah ini. Pekerjaan utamaku adalah penjaga keamanan di warung Umine. Pekerjaan sambilan? Aku blusukan tiap malam mencegah kejahatan. Mau tahu namaku?

Hmm, hei tunggu! Aku belum memutuskan nama. Biar kupikirkan dulu. Tunggu cerita petualanganku selanjutnya ya!

Jumat, 13 Mei 2016

Amin

Aku selalu waspada dalam berdoa.
Kadang juga iseng. Menutup dengan amin beberapa harapan yang saat itu kupikir tidak mungkin. Anggap saja aku mengujinya: apakah ia benar-benar mampu menjadikanmu nyata?

Amin ternyata menyimpan lebih banyak rahasia. Sepertiku, memiliki warna berbeda antara kulit dan mata. Yang berbeda, Amin selalu menepati janjinya tak peduli waktu sudah di halte pemberhentian keberapa.

Kupatok Amin di ujung kalimatku malam dulu. Lalu kulupakan. Syukur jika jadi nyata, tak masalah jika terbuang percuma. Syukur kita bisa dekat, tak mengapa jika jarak tetap tak terlipat. Rahasia tetap jadi cara favoritku menyukaimu.

Hingga suatu saat kekuatan Amin menghempaskanku ke udara. Dadaku gegap gempita. Jarak terlipat sempurna. Hei, aku bisa melihatmu! Kau pakai baju biru di kerumunan itu.

Amin mengantarkanmu padaku dengan cara yang manis dan berbahaya. Oh aku suka tantangan dan hal baru. Sampai hal itu menggerogotiku, menguasai otakku yang sebelumnya khusyuk merencanakan ini itu. Dan aku terpeleset jatuh.

Lalu aku berhenti bermain-main dengan Amin. Mantra itu mainan yang terlalu berbahaya. Aku tak berharap masuk neraka, tapi kalimat yang disimpulkan Amin bisa mengantarkanku ke sana.

Melihat Aksi Mahasiswa Lewat Drama Korea

Mengamati lewat media tentang bergeraknya mahasiswa, saya segera ingin menuliskannya. Rasanya kegelisahan di kepala bisa terasa lebih seder...